Dalam Kebisuanku
UG DANI -ist-
Hidupnya terasa kosong. Setiap pagi, ia bangun dengan hati yang hampa, membiarkan dirinya tenggelam dalam rutinitas yang tak lagi memiliki makna. Makan tanpa rasa lapar, tidur tanpa rasa lelah. Semua hal terasa tak berarti.
Setiap malam, dia hanya bisa termenung di dalam kamarnya yang sunyi, menatap langit-langit tanpa tujuan. Di pikirannya, hanya ada wanita itu.
Dia mencoba menghapus jejaknya. Menghapus nomor teleponnya, menghindari media sosialnya, mengabaikan kenangan yang muncul di sela-sela pikirannya. Namun, semua usaha itu sia-sia.
Kenangan tentangnya terus datang.
BACA JUGA:Serambi Mesjid Kami Yang Kotor
BACA JUGA:RUMAH MATAHARI 2
Maka, dalam keputusasaan yang tak lagi bisa ia bendung, ia memutuskan untuk pergi. Ke Tasikmalaya. Ke kota asal wanita itu.
Dia tidak tahu apa yang ia cari. Mungkin hanya ingin merasa lebih dekat dengannya, meski hanya melalui tempat-tempat yang pernah diinjak oleh wanita itu. Atau mungkin, dalam hatinya, ia masih berharap ada keajaiban yang bisa membalikkan keadaan.
Namun, sekarang, setelah semua yang terjadi, ia sadar.
Keajaiban itu tidak pernah ada.
Kembali ke malam itu…
BACA JUGA:Belajar dari Sang Gagak
BACA JUGA:Belenggu Sistem
Hujan turun semakin deras. Lampu-lampu jalan mulai kabur di balik tirai air yang jatuh dari langit. Lelaki itu berjalan perlahan, membiarkan tubuhnya basah. Ia tak peduli.
Dia berjalan tanpa tujuan, melewati jalanan kecil di pinggiran kota. Tasikmalaya tampak lengang malam ini, hanya suara hujan dan sesekali deru kendaraan yang terdengar.