Serambi Mesjid Kami Yang Kotor

Heri Haliling-Heri Haliling/Dok Radar Utara-
Karya Heri Haliling
Usai magrib dengan tanda rona jingga tertelan hitam malam. Pada sebuah kursi tepi jalan metropolitan; seorang pemuda berambut keriting gondrong sebahu, berkaos hitam oblong terduduk melepas asap rokok bilahan yang baru dia beli.
Bajunya tampak basah pada bagian lengan. Kadang ia goyang-goyangkan pula rambutnya dari percik air yang masih menempel.
Matanya legam tanda ia petualang jalan. Sorotnya merujuk pada kerlap-kerlip lampu mobil dan bangunan di seberangnya.
Asap keluar bebas tak beraturan dari mulutnya yang hitam ke biru-biruan. Pemuda itu menikmati anggun kehidupannya.
BACA JUGA:Belajar dari Sang Gagak
BACA JUGA:Belenggu Sistem
Tak jauh dari pemuda gondrong itu berjalan dengan ekspresi bingung sebuah rombongan berjubah gamis putih baru keluar dari mesjid yang jaraknya mungkin 500 meteran.
Tampak mata rombongan berjubah itu menelisik dan mencari pada setiap sudut-sudut tempat. Salah satu di antaranya pria setengah baya bertubuh gempal, berpeci putih dengan dahi hitam; tanpa alas merekatkan tapak kaki pada semen di trotoar jalan.
Mendekati pria gondrong itu rombongan berhenti dengan tatapan penuh keyakinan.
"Mas??!" panggil seorang pria tanpa alas itu.
Pria gondrong menengok sambil terkekang asap rokok di wajahnya.
BACA JUGA:Cecep Ingin Menjadi Kaya
BACA JUGA:Ibu, Pematang Sawah dan Cerita Seorang Gadis
"Bukankah sandal yang kau gunakan itu mirip kepunyaanku yang barusan hilang??"