Dalam Kebisuanku

UG DANI -ist-

Setelah beberapa saat, langkahnya terhenti di depan sebuah rumah sederhana. Rumah itu tidak terlalu besar, dengan halaman kecil yang dihiasi tanaman rambat di pagar depannya. Lampu teras masih menyala, memberikan cahaya hangat di tengah kegelapan malam.

Itu rumahnya.

Rumah wanita itu.

BACA JUGA:Serambi Mesjid Kami Yang Kotor

BACA JUGA:RUMAH MATAHARI 2

Jantungnya berdebar. Ia tidak tahu mengapa kakinya membawanya ke sini. Apa yang ia harapkan?

Ia berdiri di seberang jalan, bersembunyi di balik bayangan pohon besar. Matanya menatap jendela yang masih terang di lantai dua rumah itu.

Lalu, bayangan itu muncul.

Wanita itu, berdiri di dekat jendela, rambutnya yang panjang tergerai, matanya menatap keluar.

Sesaat, lelaki itu merasa seolah wanita itu sedang mencarinya. Mungkin hanya ilusi, mungkin hanya harapan kosongnya saja. Tapi melihatnya seperti ini, begitu nyata di hadapannya, membuat dadanya semakin sesak.

BACA JUGA:Belajar dari Sang Gagak

BACA JUGA:Belenggu Sistem

Dia ingin melangkah maju. Ingin memanggilnya, ingin mengatakan bahwa ia masih di sini, masih mencintainya.

Tapi, apa gunanya?

Dia sudah cukup menyiksa dirinya sendiri. Jika wanita itu menatap ke luar, itu bukan untuknya. Bukan untuk seseorang yang hanya ada dalam masa lalunya.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan