Dalam Kebisuanku
UG DANI -ist-
Karena akhirnya, dia sadar.
Cinta sejatinya memang seperti Rahwana—mencintai sepenuh hati, tapi tak pernah mendapatkan restu dari takdir.
Dan seperti Rahwana, dia hanya bisa mencintai dalam diam.
Gerimis mulai turun lagi.
Lelaki itu menarik napas panjang, lalu membuang puntung rokoknya.
Tanpa menoleh ke belakang, dia berjalan pergi, meninggalkan kota yang tak pernah menjadi miliknya.
BACA JUGA:Serambi Mesjid Kami Yang Kotor
BACA JUGA:RUMAH MATAHARI 2
Dan meninggalkan cinta yang tak pernah bisa ia miliki.
Gerimis mulai turun lagi. Lelaki itu berdiri di trotoar yang sama, menghisap sebatang rokok terakhir sebelum ia benar-benar pergi. Udara dingin meresap ke kulitnya, tetapi bukan itu yang membuatnya menggigil. Hatinya, yang selama ini menolak menerima kenyataan, akhirnya mengakui sesuatu yang begitu menyakitkan.
Dia kalah.
Sejak awal, perasaan ini hanya menjadi luka yang terus ia pelihara sendiri. Cintanya kepada wanita itu, yang selama ini ia anggap sebagai takdir yang belum selesai, nyatanya hanyalah obsesi yang enggan ia lepaskan.
Dia mengembuskan napas panjang, mengingat kembali hari-hari sebelum ia memutuskan datang ke Tasikmalaya.
BACA JUGA:Belajar dari Sang Gagak
BACA JUGA:Belenggu Sistem