Dalam Kebisuanku

UG DANI -ist-

Lelaki itu mengingat dengan jelas saat pertama kali melihatnya. Wanita itu datang seperti angin sepoi-sepoi yang menenangkan. Senyumnya hangat, suaranya lembut, dan kehadirannya membawa ketenangan yang sulit dijelaskan.

Mereka bukan sepasang kekasih. Tidak pernah. Tapi ada sesuatu dalam hubungan mereka yang tak bisa diabaikan. Percakapan panjang, tawa yang mereka bagi, bahkan diam mereka pun terasa nyaman.

Namun, sebaik apa pun hubungan itu, takdir berkata lain. Wanita itu jatuh cinta pada orang lain. Lalu menikah. Pergi dari hidupnya.

Tapi yang membuatnya sulit melupakan bukan sekadar kepergian wanita itu.

BACA JUGA:Serambi Mesjid Kami Yang Kotor

BACA JUGA:RUMAH MATAHARI 2

Yang menghancurkannya adalah kesadaran bahwa wanita itu mungkin pernah memiliki perasaan yang sama. Namun, entah karena alasan apa, dia memilih untuk tidak mengungkapkannya.

Lelaki itu terus menyalahkan dirinya sendiri.

Seandainya saja…

Seandainya saja dia lebih cepat menyatakan perasaannya. Seandainya dia lebih berani. Seandainya waktu lebih berpihak padanya.

Tapi kata “seandainya” hanya membuat luka semakin dalam.

BACA JUGA:Belajar dari Sang Gagak

BACA JUGA:Belenggu Sistem

Sekarang…

Lelaki itu bangkit dari duduknya. Dia berjalan perlahan, menyusuri trotoar yang basah. Kota ini asing, tapi entah mengapa ia merasa dekat. Seolah di sini, di sudut-sudut kota Tasikmalaya, ia masih bisa merasakan jejak wanita itu.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan