Sekuntum Mawar dengan Tangkai yang Patah

Ilustrasi-pixabay.com-

"Maafkan Sisha, Bu. Maafkan Sisha!!"

"Sudah, Putriku. Sejak dulu ibu selalu memaafkanmu."

"Turunan tetap saja turunan! Penyakit bapakmu belum hilang! Sialnya menurun. Memang bedebah bapakmu itu" kata seorang pemuda.

"Diam, kau Dimas!!! Atau ku sabetkan parangku tepat ke wajahmu!" hardik Lana.

"Hei..Hei!!!!" gemuruh teriakan tak terima dari banyak warga.

"Bapakmu tukang zina!! Lihat yang diperbuat putrinya. Apa bedanya!!" ujar Dimas merasa menang dukungan.

BACA JUGA:Sungai Yang Meminta Kedatangan

BACA JUGA:Rubik Hati Naras

Lana segera menyambar parang di sampingnya yang biasa digunakan sang ibu memecah kelapa. Secepat dia menyambar sekilat itu pula Lana memburu Dimas.

Dimas tak siap dengan sergapan itu. Dia mundur dan jatuh. Lana segera terbang hendak menimpas dada Dimas. Tapi..

Bunyi buk!!!! Dari sebuah balok kayu menghantam punggung Lana. Pemuda itu jatuh di tanah meraung lalu menggelapar.

Singkatnya kejadian kelam malam itu menghasilkan bahwa Sisha harus dinikahkan dengan pemuda itu. Setelahnya mereka berdua harus diusir dari desa. Tak kalah sial, karena kampung itu masih asri dan percaya adat; Lana dan Bu Darmi pun tak ayal diusir juga.

BACA JUGA:Negeri Jenggala

BACA JUGA:Maksum Najibut

Seingat Lana, adiknya bersama pasangan zinahnya mengemis kepada Bu Darmi untuk ikut tinggal bersama di tempat baru nanti. Bu Darmi iba dan memperbolehkan, tapi tidak dengan Lana. Dia ketus menolak mentah mentah.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan