Belenggu Sistem
Khaerul Majdi-ist-
BACA JUGA:Di Balik Pintu Hotel Melati
Kini, Hakim Bagir tak lagi menjabat sebagai Kepala Staf Kehakiman. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Surat pemecatan untuknya segera datang.
Dia digantikan oleh Tuma, hakim yang didatangkan dari kota. Sementara itu, Jaksa Amir terdampar di kasur setelah mengetahui pemecatan itu sambil memandang langit-langit cukup lama. Rasa jemu, kesal, dan geram bercampur sempurna dalam hidangan makan malam yang tawar.
Jauh di balik bukit-bukit kemelaratan, komplotan Moi dan si gembrot bersuka ria di perlucahan.
Dengan iringan musik kemenangan, mereka menikmati malam yang candu dengan minuman soda, cerutu dan pelayan perempuan mereka. Apakah Jaksa Amir akan menyerah begitu saja? Ada dua kemungkinan; iya atau tidak.
BACA JUGA:Cecep Ingin Menjadi Kaya
BACA JUGA:Ibu, Pematang Sawah dan Cerita Seorang Gadis
Bagaiamana pun ia merasa sakit dan dongkol melihat kenyataan ini, ia tetap berdiri di atas pelayaran. Safarinya tidak akan tanggal karena deburan ombak yang menggulung beringas menghempaskan sisi-sisi perahunya.
Gelora asmara pada keadilan membuatnya tetap bertahan dalam pertapaan panjang menguras keringat sambil merapal nyanyian persembahan.
Dia bertarung sendiri, ia berdiri seperti maharaja di kesunyian. Berperang mengalahkan kuda-kuda liar di atas bidak catur dalam bayang-bayang Pak Sarni.
Jarum jam menujukkan pukul dua malam. Segerombolan ajak menggonggong dari delapan penjuru angin. Membikin berisik seisi rumah.
BACA JUGA:Dendam
BACA JUGA:Di Balik Pintu Hotel Melati
Hakim Amir duduk dari tempatnya bertimpuh dan kemudian pelan-pelan menaiki kasur. Duda tak punya anak seperti dirinya hanya bisa menikmati gemerlap bintang seorang diri tanpa pelukan seorang isteri.
Sepekan kemudian, setelah mempersiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan, berita tentang penangkapan Moi tersebar di berbagai media masa.