Belenggu Sistem
Khaerul Majdi-ist-
Di siang hari yang masih masam, orang-orang berdatangan untuk belasungkawa atas kematiannya yang mengenaskan.
Handai taulan datang dan pergi bergantian. Begitu pula dengan Pak Sarni, Moi, Beni, Jaksa Latif, dan beberapa aparat rekan tugasnya.
Jaksa Amir dan Hakim Bagir juga ikut menshalati. Mereka bertemu di halaman rumah, di taman-taman bunga yang layu, mereka bersemuka begitu kosong dan dingin.
BACA JUGA:Dendam
BACA JUGA:Di Balik Pintu Hotel Melati
Di malam yang tak bergairah, komplotan Moi berpisah jasad menuju kandang kediaman mereka masing-masing. Moi kalut, Beni meringkik tak karuan dan Pak Sarni seperti biasanya, bermuka suram. Begitu pula Latif, si jaksa lancung bergeming di meja makan.
Sebenarnya mereka tidak merasa kehilangan sedikitpun atas kematian si Tuma. Tapi, karena mereka takut karena penyebab kematian si Tuma begitu menjijikkan; bergelimang darah dan nanah.
Mereka semua takut, sebab dosa mereka sama, sama-sama rakus. Di benak mereka, jangan-jangan nanti mereka juga merasakan hal yang sama dengan Hakim Tuma.
Di malam hari yang dikitari oleh ketakutan, Beni didatangi oleh laki-laki berwajah angker dan garang. Di sebuah kamar kosong yang dibalut oleh kobaran api siap menyantap jantungnya sampai menjadi arang.
BACA JUGA:Cecep Ingin Menjadi Kaya
BACA JUGA:Ibu, Pematang Sawah dan Cerita Seorang Gadis
Karena takut melihat laki-laki angker itu, Beni mencongkel kedua bola matanya sendiri dan memakannya. Perutnya mengembung terbakar, dan meletus bak gunung merapi.
Usus-ususnya keluar dan mulutnya dipenuhi ulat dan cacing tanah. Di bawah bokongnya, darah dan nanah bercucuran bercampur dan keluar bersilang ganti. Karena gerah dan kerongkongannya kering, ia meminum nanah dan darah yang keluar dari lubang bokongnya.
Karena bengis, laki-laki yang tak dikenal itu, mengiris-iris kulitnya dengan belati setajam pedang Damaskus. Di cincang habis-habisan seperti daging kurban di hari raya.
Setelah Beni menjadi potongan-potongan kecil, tubuhnya kembali seperti semula tak sampai lima kerdip mata.