Ibu, Pematang Sawah dan Cerita Seorang Gadis
Khaerul Majdi-ist-
Cerpen : Khaerul Majdi
Matahari baru saja bangun dari tempat pertapaannya yang cukup panjang. Cukup untuk menyiapkan kemilau terang dengan kemewahan senjanya di pagi hari, saat wanita berumur setengah abad bergegas pergi menengok padinya yang mau menguning. Ia kupanggil ibu, tiada lain.
Aku selalu ingat bagaimana Ibu membangunkanku dari mimpiku yang lelap di saat senandung kalimat azan shalat fajar berkumandang jelas.
Sesekali aku merasa dongkol dengan Ibu, sebab ia terkadang menghancurkan mimpiku yang sedang asik bermain petak umpet bersama teman-temanku.
Kadangkala, aku berterimakasih kepada ibu ketika ia membangunkanku dari mimpi buruk dikejar anjing atau di kala aku akan terjatuh ke dalam jurang atau barangkali di kala aku akan tenggelam dalam lautan.
BACA JUGA:Dendam
BACA JUGA:Di Balik Pintu Hotel Melati
“Mimpi adalah keadaan paling melamun, Nak. Bangunlah.” Pesan ibu di saat aku merengek ingin melanjutkan tidur. Dengan terpaksa aku bangun melanjutkan sisa-sisa nafas dalam kehidupan penuh riuh ini.
Sampai aku beranjak dewasa, sampai senyum simetris ibu hanya bisa kupandang hanya dalam sebentuk bayangan beberapa waktu setelah jantung ibu berhenti berdetak dan dishalatkan di altar persembahan dan diantar ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
Masa kecil yang dahulu terkisah dalam lembaran masa lalu itu membuatku ingin menengok kembali, masa-masa di mana aku merasakan duka cinta ibu.
Di pagi hari, ibu memasak santapan pagi hari sebelum aku berangkat ke sekolah dan memasangiku kancing seragam sekolah.
BACA JUGA:Wajahmu Berbeda
BACA JUGA:Sekuntum Mawar dengan Tangkai yang Patah
Kadangkala menjahit celanaku yang robek akibat ulah liarku. Setiap Minggu pagi, ibu memeriksa jari-jemariku, memotong kuku dekilku agar esok ketika aku akan menyeberang ke hari Senin dari pelabuhan Minggu, aku dalam keadaan bersih dan gagah mengikuti apel bendera.
“Nak, setelah pulang sekolah langsung makan ya. Sepertinya, Ibu pulang dari sawah sore hari.” Pesan yang selalu aku dengar ketika Ibu akan pergi ke sawah dan terlambat pulang.
