Belenggu Sistem
Khaerul Majdi-ist-
Melihat itu, Beni, Pak Sarni dan komplotannya itu kelimpungan. Kegawatan mereka tertangkap dari raut wajah mereka kecut.
“Gawat, Pak Sarni!” ungkap Beni sambil kalut, “lalu, apa rencanamu, Pak? Jangan sampai kami benar-benar diadili. Kami telah membayarmu dengan mahal!”
BACA JUGA:Cecep Ingin Menjadi Kaya
BACA JUGA:Ibu, Pematang Sawah dan Cerita Seorang Gadis
“Tenang saja, Bos. Percayakan semuanya sama saya,” dengan percaya diri, Pak Sarni berupaya meyakinkan.
“Kalau saja saya juga ditangkap, saya akan bongkar sindikatmu, Pak!”
“Jangan mengancam, Beni. Kasusmu lebih tengil dari saya. Jika kamu berani, isterimu yang memakan uang suap juga akan kena imbas!”
Di pengadilan, Moi dengan santai merekah senyum. Bagaimana pun dia telah memeras uang saku untuk membayar Hakim Tuma. Sebelumnya, penasehat hukumnya mengajukan Nota Keberatan kepada Majelis Hakim bahwa telah terjadi error in persona.
BACA JUGA:Dendam
BACA JUGA:Di Balik Pintu Hotel Melati
Seharusnya bukan Moi yang diseret ke pengadilan. Ia menyebut beberapa orang yang seharusnya terlibat, termasuk Malia, isteri Beni. Setelah penasehat hukum Moi selesai membaca Nota Keberatan, Hakim Tuma mengetok palu sidang, tanda ia mengamini keberatan yang mereka ajukan. Moi bebas dari tuntutan pengadilan.
“Brengsek!” Beni linglung seolah keparat. Seribu umpatan dilempar ke muka Moi. “Sialan! Kenapa harus isteriku, Moi?”
“Aku terpaksa, Ben,” jawabnya tanpa ada rasa bersalah.
“Anakmu yang bakal jadi tumbal, Moi!” dengan geram Beni membalas, “Anakmu pembunuh, Moi! Tapi kamu sembunyikan di ketiak para keparat itu!”
BACA JUGA:Cecep Ingin Menjadi Kaya