Wajahmu Berbeda

Ilustrasi-radarutara.bacakoran.co-

“Resolusiku sederhana aja, sih! Mungkin rajin ngirim tulisan ke koran, mungkin streaming-an baca puisi karya sendiri lagi di Instagram. Nggak tahu planing pastinya.” Aku berusaha mencairkan suasana.

Ardina mendengus, “Kayak ABG aja kamu ini!”

“Terus maumu bagaimana, Ar?” lirihku memelas.

BACA JUGA:Sekuntum Mawar dengan Tangkai yang Patah

BACA JUGA:Negeri Jenggala

“Idih, bocah tua! Pikir aja sendiri!” Ardina menghabiskan gorengan, lekas menyeruput minuman, dan beranjak pergi selepas melunasi pembayaran.

“Jangan temui aku selagi sikapmu masih kekanak-kanakan begitu, Mas.” Sinis ucapannya menghunjam dalam hati.

Aku terpaku, tangan tidak berhenti mengaduk kopi hingga gula jawanya larut menyatu. Separah itukah sikap bocilku? Apa jangan-jangan, resolusi yang diingini Ardina seperti pria-pria kaya dan gendut gemoy yang senantiasa berjajar rapi di meja bundar? Atau, ada ekspetasi lain? Pusing tak habis-habis aku memikirkan.

Sampai terbawa pulang, bahkan hingga hari ini keketusan sikap teman karib gadisku itu masih membayangi.

Aku mengembuskan napas dalam-dalam. Sempat terlintas dalam benak, sebuah ingatan pada video yang pernah mengatakan kalau kemauan dan harapan wanita itu butuh dirasakan dengan kepekaan.

BACA JUGA:Maksum Najibut

BACA JUGA:Tanah Kuburan Mbah Bendera

Tidak akan selesai masalahnya kalau Cuma ego yang dipergunakan. Jangan-jangan, selama ini caraku tidak tepat, gayaku nggak pas dengan kriteria Ardina? Lagi-lagi pusing mendera.

Lekas kubuang jauh ke dalam lipatan terdalam pikiran persoalan itu.

Aku beranjak keluar rumah, duduk pada sebuah lincak yang biasanya kugunakan untuk menerima tamu. Semilir angin malam, pemandangan orang ramai yang melintas silih berganti di jalanan depan, dan langit yang bersih dengan bulan dikawal bintang setidaknya melipur laraku.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan