Tanah Kuburan Mbah Bendera

Ilustrasi-es.pinterest.com-
Cerpen: Malik Ibnu Zaman
Matahari sore menembus celah-celah pepohonan di Pemakaman Umum Kebon Jambe, menyinari deretan makam yang tak bernama. Di antara makam-makam itu, satu makam terlihat menonjol karena kesederhanaannya.
Tak ada batu besar atau ukiran rumit yang menghiasi, hanya sebuah batu nisan keramik yang kini menandai tempat peristirahatan terakhir Mbah Bendera bin Adam.
Pada batu nisan itu, terpampang bendera merah putih dengan tulisan yang tegas, "Perjuangan Belum Selesai Sampai Kau Isi Kemerdekaan Dengan Karya Nyata." Tak banyak yang tahu siapa sebenarnya Mbah Bendera.
Sewaktu kecil aku sering mendengar nama itu dari nenek buyut. Setiap kali aku datang ke rumahnya dalam keadaan menangis karena gara-gara berkelahi dengan teman, nenek buyut selalu mengatakan masa keturunan Mbah Bendera pemegang panji Perang Jawa cengeng.
BACA JUGA:SANG PELATIH
BACA JUGA:Natal di Keluarga Barbara
Saat itu aku tidak mempedulikan omongan nenek buyut, lagian mana mungkin anak sekecil itu paham apa itu Perang Jawa. Dunianya ya hanya sebatas main, mandi di sungai, bermain sepak bola.
Jujur aku menyesal, sebab hingga nenek buyut kembali kepada pangkuan pencipta, aku tidak pernah sekalipun menanyakan kepadanya secara jelas siapa Mbah Bendera. Alhasil aku pun tidak tahu nama sebenarnya Mbah Bendera.
Lalu bagaimana dengan kakekku dan ibuku, apakah aku tidak pernah menanyakan kepada mereka? Kakek meninggal di usia muda. Sementara ibuku hanya menjawab bahwa Mbah Bendera adalah leluhur kami yang pernah ikut dalam Perang Jawa dan menjadi pemegang bendera Perang Jawa, hanya sebatas itu yang ibuku tahu.
Kedatanganku ke makam Mbah Bendera bukan tanpa sebab, sebab akhir-akhir ini datang ke dalam mimpiku. Laki-laki kurus, dengan destar hitam melilit kepalanya, dadanya terbuka, dan celana hitam yang hanya sampai bawah lutut. Sebuah kain hitam putih melilit rapi di pinggang, tempat sebuah keris terselip.
BACA JUGA:MAKAM KERAMAT BAH UYUT
BACA JUGA:Penjamah di Tanah Tuah
Aku pikir itu Mbah Bendera, sebab laki-laki tersebut terdapat smile line (garis senyum di pipi), sebuah ciri khas dari keluarga besar kami. Selain itu keris yang ia bawa adalah keris pusaka turun temurun keluarga besar kami. Atas dasar itulah aku yakin bahwa itulah Mbah Bendera.
"Kamu jarang kirim al-fatihah ke leluhur," ujar ibuku saat aku telepon.