Defisit Kebudayaan: Sastra dalam Bayangan Pasar dan Prinsip 5W-1H

Sabtu 21 Dec 2024 - 19:53 WIB
Reporter : redaksi
Editor : Ependi

Orwell, dengan alegori distopiknya, mengingatkan kita akan bahaya totalitarianisme dan pengawasan yang berlebihan, sementara Dostoevsky, dengan psikologisme yang mendalam, menggali kompleksitas moralitas dalam menghadapi penderitaan dan dosa.

Penyempitan ruang bagi sastra dalam masyarakat kita dapat dilihat sebagai cerminan dari penyempitan ruang bagi pemikiran kritis dan refleksi yang lebih dalam tentang hidup.

Di tengah dunia yang semakin sibuk dengan kalkulasi-kalkulasi praktis dan tuntutan kapitalisme, sastra—dengan semua kompleksitas dan ambiguitasnya—menjadi seperti oasis yang semakin sulit ditemukan.

BACA JUGA:PEREMPUAN YANG MENJUAL DIRINYA PADA JARAK

BACA JUGA:Anak Sekolah Dasar yang Mati Tak Berdasar

Padahal, sebagaimana dikatakan oleh T.S. Eliot dalam esainya Tradition and the Individual Talent, sastra adalah tempat bagi kita untuk mencari "kebebasan" dari dunia yang terbatas pada waktu dan ruang.

Sastra membawa kita melampaui batasan-batasan tersebut dan menawarkan perspektif yang lebih luas, yang dapat memberi kita pemahaman yang lebih dalam tentang manusia dan dunia tempat kita tinggal.

Oleh karena itu, penting untuk mengingat kembali peran sentral sastra dalam kebudayaan kita. Sastra adalah jalan menuju pemahaman yang lebih dalam tentang dunia, yang tidak hanya terbatas pada apa yang bisa dilihat atau dihitung, tetapi juga pada yang lebih tak terjangkau oleh mata dan pikiran manusia.

Sastra adalah upaya manusia untuk mendekatkan diri dengan kebenaran, dengan kemanusiaan, dan dengan makna-makna yang lebih besar dari sekadar pencapaian duniawi. Sebagai cermin peradaban, sastra harus dihargai kembali, baik sebagai seni, ilmu, maupun alat untuk membangun masyarakat yang lebih manusiawi dan kritis.

BACA JUGA:Kembali ke Laut

BACA JUGA:Ibu Sambung

Sastra sebagai inti dari peradaban yang lebih dalam, yang memerlukan perhatian lebih dalam ekosistem kebudayaan kita. Di tengah dunia yang semakin materialistis, sastra sering terpinggirkan sebagai sesuatu yang tidak memberikan "keuntungan praktis."

Namun, sastra sejatinya adalah cermin bagi eksistensi manusia, yang tidak hanya menawarkan keindahan estetika, tetapi juga ruang bagi refleksi filosofis dan kritik sosial yang mendalam.

Melalui karya-karya besar dari berbagai tradisi, sastra mengajarkan kita untuk melihat dunia tidak hanya melalui lensa materi, tetapi dengan kedalaman makna yang melampaui batas waktu dan ruang.

Menghargai dan melestarikan sastra berarti menghargai nilai-nilai peradaban yang mampu memberi kita pemahaman lebih dalam tentang diri, masyarakat, dan dunia yang kita huni, serta menjaga kehidupan budaya yang lebih manusiawi dan kritis.

BACA JUGA:GUBUK KECIL DAN RINTIK HUJAN

Kategori :

Terkait

Sabtu 27 Jul 2024 - 21:04 WIB

Bukan Dia, Romeomu

Sabtu 15 Jun 2024 - 19:58 WIB

Monolog Pluto

Sabtu 20 Apr 2024 - 17:50 WIB

Mencintaimu Seperti Filosofi Hujan