Mendoakan Kematian?
Ilustrasi-radarutara.bacakoran.co-
Sudah hampir 30 menit Ustaz Solihin berada di kamar itu. Di luar kamar hanya ada sang tamu yang mengetuk pintu rumahnya tadi menunggunya selesai berdoa sedangkan perempuan tua dan yang lainya berada di ruang tamu. Ia keluar tak lama setelah itu.
Tak sampai satu jam. Sebelum keluar kembali ia pandangi wajah lelaki tua yang tengah terbaring dengan keadaan yang masih seperti semula.
“Sudah, Pak?” sang tamu langsung bertanya saat Ustaz Solihin keluar dari ruangan itu. Wajahnya masih cemas.
“Sudah. Ibu dimana? Saya mau pamit, mau langsung pulang.”
BACA JUGA:Dalam Kebisuanku
BACA JUGA:Serambi Mesjid Kami Yang Kotor
“Ibu di depan. Mari, Pak.”
Begitu tiba di ruang tamu perempuan tua itu segera berdiri dan lantas mendekatinya. Mula-mula perempuan itu menawarinya duduk dan menikmati hidangan seadanya.
Dengan sopan Ustaz Solihin menolak. Ia mengatakan jika waktu sudah cukup malam. Ia musti pulang sebab besok ia musti ke ladang. Dan ia pun berjanji kepada perempuan tua itu untuk mengunjunginya lagi selepas salat subuh nanti.
Akhirnya, Ustaz Solihin pun pulang. Perempuan tua itu menyelipkan amplop putih saat menyalami Ustaz Solihin—sebagai bentuk terima kasih. Dengan sopan Ustaz Solihin menolak. Ia pun pamit dan kemudian pulang ke rumahnya.
**
Ustaz Solihin terbangun beberapa saat sebelum waktu subuh tiba. Suara parau Pak Ramin lewat corong musala tidak bisa tidak mengganggu tidurnya yang belum jenak.
BACA JUGA:Tirani Biru dan Isinya yang Terbelenggu
BACA JUGA:Dendam Seorang Perempuan
Ditambah jarak antara musala dan rumahnya yang tak sampai 30 meter membuat berita lelayu itu terdengar begitu jelas. Rupanya orang yang baru saja meninggal dunia adalah orang yang semalam ia doakan. Untuk sesaat ia merasa bersalah sekalipun ia percaya bahwa takdirlah yang berkuasa di atas segalanya.