Mendoakan Kematian?
Ilustrasi-radarutara.bacakoran.co-
BACA JUGA:Tirani Biru dan Isinya yang Terbelenggu
BACA JUGA:Dendam Seorang Perempuan
Di samping lelaki tua itu seorang perempuan yang usianya sedikit lebih tua dari sang tamu yang mengetuk pintu rumahnya tadi duduk bersimpuh sambil mulutnya merapal doa-doa dari buku yang ia genggam dan tangan kirinya memegang tangan kiri lelaki tua.
Dalam suasana itu meskipun penerangan hanya dari lampu bohlam kuning 5 watt raut perempuan yang sedang bersimpuh itu bisa ia baca, sama seperti sang tamu dan perempuan tua yang menuntunnya tadi: cemas.
Kenyataan itu bertambah jelas saat ia berdeham sesaat sebelum masuk ke ruangan itu, saat perempuan itu menoleh dan mengangguk kepada Ustaz Solihin.
Matanya sembab seperti perempuan tua dan wajahnya cemas, sangat cemas, bahkan. Perempuan itu lantas beringsut keluar tanpa mengatakan sepatah pun kata.
BACA JUGA:Dalam Kebisuanku
BACA JUGA:Serambi Mesjid Kami Yang Kotor
Kini hanya ada Ustaz Solihin dan lelaki tua yang tengah terbaring di kamar itu. Ustaz Solihin duduk di tempat sebelumnya perempuan itu bersimpuh.
Dari sana bisa ia lihat dengan jelas sekujur badan lelaki tua: badanya yang kian kurus semenjak terakhir kali ia melihatnya, kembang-kempis dadanya dan matanya yang selalu memandang ke atas. Melihat semua itu membuatnya merasa ngeri. Sebab baginya, kematian bukanlah gagasan yang gampang diseberangi¹.
Hampir sepuluh menit ia berada di kamar itu dan belum ada doa atau surat yang ia rapal. Entah kenapa saat melihat lelaki tua yang tengah terbaring dengan mata yang selalu memandang ke atas itu ia teringat dengan ungkapan Kakeknya dulu, “Bukan bermaksud menyumpahi atau mendoakan, orang yang mau meninggal matanya selalu memandang ke atas.”
Ungkapan kakeknya berdengung terus-menerus di kepalanya sekalipun ia tak memercayainya. Ia percaya bahwa kematian adalah urusan takdir. Namun, melihat mata lelaki tua yang terus-menerus memandang ke atas ditambah raut cemas orang-orang yang ia temui tadi membuatnya khawatir.
BACA JUGA:Tirani Biru dan Isinya yang Terbelenggu
BACA JUGA:Dendam Seorang Perempuan
Demi menepis segala kekhawatirannya ia merogoh saku baju putihnya: mengambil buku Yasin dan Tahlil beserta secarik kertas berisi doa yang telah ia lipat. Kini ia mulai mendoakan lelaki tua yang tengah terbaring itu. Ia mulai dengan bertawasul, kemudian membaca surah Yasin, kemudian membaca tahlil dan dipungkasi dengan doa.