Mendoakan Kematian?

Ilustrasi-radarutara.bacakoran.co-

Selama perjalanan tidak ada percakapan. Baru ketika sampai di rumah sang tamu Ustaz Solihin menguluk salam saat mendekati teras kepada orang-orang yang sudah terlebih dahulu berada di rumah sang tamu. Orang-orang itu duduk di teras beralaskan tikar dan sebagian lagi di dalam, tepatnya di ruang tamu. 

“Monggo, Pak.” Sambut salah seorang yang berada di rumah sang tamu sambil berusaha berdiri saat melihat Ustaz Solihin sampai di pelataran rumah.

Satu-persatu tamu yang sudah tiba terlebih dahulu disalami oleh Ustaz Solihin, sedangkan sang tamu yang mengetuk pintu rumahnya tadi masuk.

BACA JUGA:Tirani Biru dan Isinya yang Terbelenggu

BACA JUGA:Dendam Seorang Perempuan

Beberapa saat kemudian, dengan raut muka yang sama cemas seperti sang tamu tadi bedanya matanya sembab, seorang perempuan yang sudah tua—lebih tua dari Ustaz Solihin—keluar dari dalam rumah bersama sang tamu. Perempuan itu rupanya Ibu dari sang tamu yang mengetuk pintu rumahnya tadi. 

“Terima kasih, Pak Ustaz. Silakan, Bapak di dalam.” Perempuan tua itu menyilakan Ustaz Solihin sambil menuntunnya masuk.

Meski berkali-kali menghadapi situasi semacam ini tak bisa dipungkiri raut wajah Ustaz Solihin menjadi sama seperti tamu tadi.

Sambil terus mengikuti perempuan tua itu dari belakang, dadanya merasa seperti terbebani oleh entah apa sehingga ia hanya menunduk. Ia merasa semua orang di rumah itu membebaninya terlebih perempuan tua dan sang tamu; mereka berdua seolah menumpahkan begitu besar harap kepadanya. 

BACA JUGA:Dalam Kebisuanku

BACA JUGA:Serambi Mesjid Kami Yang Kotor

Sambil terus menunduk tanpa memperhatikan sekeliling Ustaz Solihin berjalan mengikuti perempuan tua tadi. Ia baru mendongakkan kepala dan mengedarkan pandangannya saat tiba di ruangan paling belakang, di dapur.

Di sana ada sepetak ruangan kecil berbentuk persegi, berdinding kayu tanpa pintu dan hanya tertutup gorden. Dari dalam ruangan itu terdengar grenang-grenang yang tak begitu jelas. 

“Monggo, Pak Ustaz.” Ucap perempuan tua sambil telunjuknya menunjuk ke dalam setelah menyibak gorden bermotif angsa dengan warna merah muda yang sudah luntur.

 Ustaz Solihin hanya mengangguk. Ia tak lantas masuk, diedarkannya terlebih dahulu pandangannya ke penjuru ruang. Ia kini mengerti, rupanya tempat itu adalah kamar (atau dimaksudkan untuk kamar) tanpa ranjang, hanya karpet berwarna hijau menjadi alasnya, dan di tengah ruangan itu ada sebuah kasur yang di atasnya terbaring seorang lelaki tua.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan