Serambi Mesjid Kami Yang Kotor

Heri Haliling-Heri Haliling/Dok Radar Utara-
"Alahhh bacot!!!!Gerandong gondrong ini ku yakin pencuri!! Sudah tak heran dengan berandalan kayak gini" kata satu warga seolah tahu dan senang provokasi. "Banyak kedoknya. Mulai jadi pengamen, pemulung, sales, dan lain-lain. Sudah jangan kasih kendor. Hajar saja!"
"Ya!! Ya!! Ya!!!" teriak persetujuan warga lainnya.
"Tapi memang saya bukan pencuri, Pak. Kalian yang berbaju bersih, apa ini hasil amalan ibadah yang bapak pelajari?" kata Arsakha semakin berani.
"Woyy jangan ajari kami soal ibadah!!! Maling, kau ini tau apa!!" seru satu pria gamis.
"Cukup!!? Cukup!!? Ayo kita lihat ke mesjid. Sabar!!!! Mungkin benar katamu, sandal kita tertukar" kata H. Insani.
BACA JUGA:Belajar dari Sang Gagak
BACA JUGA:Belenggu Sistem
Semuanya setuju dan dengan dicengkram tangannya, Arsakha dibawa seolah terpidana tanpa alas kaki. Sepasang sandalnya telah berpindah ke kaki H. Insani.
*
Di halaman mesjid, sudah berapa kali putaran tapi tak ketemu sandal yang dimaksudkan. Wajah Arsakha mulai dingin oleh banjir peluh. Sementara sekitarnya mata-mata garang serigala telah menandainya sebagai santapan.
"Sudah maling!! Mengajari agama lagi!!!" kata satu pria gamis jengkel sambil mulai anarkis menjambak rambut gondrong Arsakha. Pria lainnya ikut terpancing dan mulai satu-satu menganiaya dengan pukulan.
Seorang pria yang sedari tadi mengamankan Arsakha dengan mencengkram tangan mulai lebih senang menjambak agar buruannya tak kabur.
Tapi tak lama karena sekonyong-konyong aneka batu dan bata hingga balokan mulai terbang mengarah dan menghujam. Dia lepas jambakan Arsakha dan membiarkan pemuda itu berhujan hantaman benda-benda keras nan cadas.
BACA JUGA:Cecep Ingin Menjadi Kaya