Lelaki itu menarik napas panjang, lalu membuang puntung rokoknya.
Tanpa menoleh ke belakang, dia berjalan pergi, meninggalkan kota yang tak pernah menjadi miliknya.
BACA JUGA:Serambi Mesjid Kami Yang Kotor
BACA JUGA:RUMAH MATAHARI 2
Dan meninggalkan cinta yang tak pernah bisa ia miliki.
Gerimis mulai turun lagi. Lelaki itu berdiri di trotoar yang sama, menghisap sebatang rokok terakhir sebelum ia benar-benar pergi. Udara dingin meresap ke kulitnya, tetapi bukan itu yang membuatnya menggigil. Hatinya, yang selama ini menolak menerima kenyataan, akhirnya mengakui sesuatu yang begitu menyakitkan.
Dia kalah.
Sejak awal, perasaan ini hanya menjadi luka yang terus ia pelihara sendiri. Cintanya kepada wanita itu, yang selama ini ia anggap sebagai takdir yang belum selesai, nyatanya hanyalah obsesi yang enggan ia lepaskan.
Dia mengembuskan napas panjang, mengingat kembali hari-hari sebelum ia memutuskan datang ke Tasikmalaya.
BACA JUGA:Belajar dari Sang Gagak
BACA JUGA:Belenggu Sistem
Beberapa minggu sebelumnya
Hidupnya terasa kosong. Setiap pagi, ia bangun dengan hati yang hampa, membiarkan dirinya tenggelam dalam rutinitas yang tak lagi memiliki makna. Makan tanpa rasa lapar, tidur tanpa rasa lelah. Semua hal terasa tak berarti.
Setiap malam, dia hanya bisa termenung di dalam kamarnya yang sunyi, menatap langit-langit tanpa tujuan. Di pikirannya, hanya ada wanita itu.
Dia mencoba menghapus jejaknya. Menghapus nomor teleponnya, menghindari media sosialnya, mengabaikan kenangan yang muncul di sela-sela pikirannya. Namun, semua usaha itu sia-sia.
Kenangan tentangnya terus datang.
BACA JUGA:Serambi Mesjid Kami Yang Kotor