Ia berdiri di seberang jalan, bersembunyi di balik bayangan pohon besar. Matanya menatap jendela yang masih terang di lantai dua rumah itu.
Lalu, bayangan itu muncul.
Wanita itu, berdiri di dekat jendela, rambutnya yang panjang tergerai, matanya menatap keluar.
Sesaat, lelaki itu merasa seolah wanita itu sedang mencarinya. Mungkin hanya ilusi, mungkin hanya harapan kosongnya saja. Tapi melihatnya seperti ini, begitu nyata di hadapannya, membuat dadanya semakin sesak.
BACA JUGA:Belajar dari Sang Gagak
BACA JUGA:Belenggu Sistem
Dia ingin melangkah maju. Ingin memanggilnya, ingin mengatakan bahwa ia masih di sini, masih mencintainya.
Tapi, apa gunanya?
Dia sudah cukup menyiksa dirinya sendiri. Jika wanita itu menatap ke luar, itu bukan untuknya. Bukan untuk seseorang yang hanya ada dalam masa lalunya.
Lelaki itu mengepalkan tangannya, menahan gemetar di tubuhnya. Matanya mulai terasa panas.
Dia tak lagi bisa di sini.
Akhirnya, lelaki itu berbalik dan pergi.
BACA JUGA:Serambi Mesjid Kami Yang Kotor
BACA JUGA:RUMAH MATAHARI 2
Dia berjalan tanpa menoleh ke belakang, membiarkan hujan menyamarkan jejak langkahnya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia mencoba menerima kenyataan. Bahwa tidak semua cinta bisa diperjuangkan. Bahwa tak semua cinta akan mendapatkan akhir bahagia.