Mereka bukan sepasang kekasih. Tidak pernah. Tapi ada sesuatu dalam hubungan mereka yang tak bisa diabaikan. Percakapan panjang, tawa yang mereka bagi, bahkan diam mereka pun terasa nyaman.
Namun, sebaik apa pun hubungan itu, takdir berkata lain. Wanita itu jatuh cinta pada orang lain. Lalu menikah. Pergi dari hidupnya.
Tapi yang membuatnya sulit melupakan bukan sekadar kepergian wanita itu.
BACA JUGA:Serambi Mesjid Kami Yang Kotor
BACA JUGA:RUMAH MATAHARI 2
Yang menghancurkannya adalah kesadaran bahwa wanita itu mungkin pernah memiliki perasaan yang sama. Namun, entah karena alasan apa, dia memilih untuk tidak mengungkapkannya.
Lelaki itu terus menyalahkan dirinya sendiri.
Seandainya saja…
Seandainya saja dia lebih cepat menyatakan perasaannya. Seandainya dia lebih berani. Seandainya waktu lebih berpihak padanya.
Tapi kata “seandainya” hanya membuat luka semakin dalam.
BACA JUGA:Belajar dari Sang Gagak
BACA JUGA:Belenggu Sistem
Sekarang…
Lelaki itu bangkit dari duduknya. Dia berjalan perlahan, menyusuri trotoar yang basah. Kota ini asing, tapi entah mengapa ia merasa dekat. Seolah di sini, di sudut-sudut kota Tasikmalaya, ia masih bisa merasakan jejak wanita itu.
Dia berjalan tanpa arah, hanya mengikuti instingnya. Hingga akhirnya langkahnya membawanya ke sebuah taman kecil, di mana bangku-bangku kayu basah oleh sisa gerimis.
Dia duduk, menatap langit malam yang mendung. Hatinya penuh dengan kebingungan.