Lukisan Merah
Ilustrasi-radarutara.bacakoran.co-
Oleh : Atikah Zahra Harahap
Ada satu pertanyaan yang tak pernah kau jawab. Malam itu, ketika kau menembus kepekatan sendirian, aku melihat punggungmu yang tipis membelah kegelapan hingga tinggal titik putih yang berpendar. Suaraku serak memanggil, namun kau berjalan tanpa menoleh. Entah mengapa, tiba‑tiba aku yakin kau akan pergi jauh.
Sorai hitam terurai, pipi merona merah alami, gincu merah muda membalur bibirnya namun riasan itu tak mampu menyampaikan seluruh keindahan wajahnya. Buliran lara jatuh tanpa permisi, memohon berkat pada Tuhan malam itu. Seroja berdiri hening dalam tangis, sampai tabrakan suara lain merobek keheningan.
“Darimana saja kau?! Pulang selarut ini, menjalang di mana kau?!” Suara itu meninggi, penuh amarah, aroma tuak menguar dari mulutnya, kecut dan kasar. Seroja membenci sosok itu. Ia rakus, mudah marah tetapi Seroja tetap menatapnya tanpa gentar. Sudah menjadi takdirnya untuk menanggung dan merawat. Dengan tangan gemetar, ia menyeka buliran suci yang tak pantas menempel di wajah yang terluka itu. Ketika sosok itu terpuruk, Seroja tahu tugasnya adalah menyembuhkan.
Ia mendorong sosok itu masuk ke rumah, menahan agar keributan tak membesar. Sekali dorong, sosok itu tersungkur ke lorong, mengumpat, “Dasar anak tidak tahu diri, berani sekali kau menyentuhku. Terkutuklah kau!” Matanya penuh kebencian. Dengan tongkat, ia melangkah menjauh, langkahnya terpaut‑paut. Semakin jauh, Seroja semakin sadar yang menjauhinya itu sebenarnya ingin agar Dia kembali. Mungkin sudah saatnya untuk kembali ke tempat dimana semua masalah menggerogoti.
BACA JUGA:Kunang-kunang di Matamu
BACA JUGA:The Emerald Code
Singapura, siang yang menggigit.
Setengah jam ia berdiri di depan pintu kayu yang tak kunjung terbuka. Panas musim panas meranggaskan pori‑porinya, dorongan untuk mendobrak semakin kuat. Ia mengetuk lagi, lalu memukul pintu sekuat tenaga. Langkah berat terseret, batuk yang menyakitkan terdengar, lalu muncullah wajah perempuan berkulit keriput, rambut salju, bibir tebal yang menandai kebengisan.
“Baiklah!” seru Seroja tiba‑tiba, lalu masuk dengan senyum yang dipaksakan. Seharian di bawah matahari membuat emosinya mudah meledak. Kakinya terbawa ke ujung gang sempit yang tak ia kenal; gang itu berujung pada sebuah motel merah, sungai kecil mengalir di samping bangunan tua. Di lorong panjang, dinding‑dinding dipenuhi karya seni, lukisan seperti buatan anak kecil, bertebaran dalam warna yang berbeda. Namun warna yang dominan muram: hitam dan merah. Mengapa gambar yang ceria dipoles dengan kelam?
Lorong menuju kamarnya remang, menjanjikan ketenangan yang samar. Ia keluar lagi, berjalan menyusuri sungai, mencoba memahami alasan kepergian yang tak pernah ia harapkan. Ia tak ingin membuang lebih banyak waktu dan membuat sosok itu marah. Langkahnya membawa ke sebuah bangunan tua yang masih satu area dengan motelnya. Bedanya bangunan ini berarsitektur megah, terawat, kontras dengan motel sebelumnya. Di sana lagi ia menemukan lukisan anak‑anak dengan paduan warna kelam. Ada apa dengan penginapan di Paris?
Kamar 115. Ia mengetuk selama sepuluh menit sebelum pemiliknya muncul, terkejut. “Ada apa?” tanya pria itu. Seroja hendak memperkenalkan diri, namun kalimatnya terputus. Pria itu menolak kehadirannya. Pintu ditutup dan Seroja sadar bahwa pencarian hari itu berakhir. Ia harus kembali ke motel sebelum malam.
BACA JUGA:Tuangan Teh Terakhir
BACA JUGA:DOTI LAMAIKA
Hari kedua.