BACA JUGA:RUMAH MATAHARI 2
Maka, dalam keputusasaan yang tak lagi bisa ia bendung, ia memutuskan untuk pergi. Ke Tasikmalaya. Ke kota asal wanita itu.
Dia tidak tahu apa yang ia cari. Mungkin hanya ingin merasa lebih dekat dengannya, meski hanya melalui tempat-tempat yang pernah diinjak oleh wanita itu. Atau mungkin, dalam hatinya, ia masih berharap ada keajaiban yang bisa membalikkan keadaan.
Namun, sekarang, setelah semua yang terjadi, ia sadar.
Keajaiban itu tidak pernah ada.
Kembali ke malam itu…
BACA JUGA:Belajar dari Sang Gagak
BACA JUGA:Belenggu Sistem
Hujan turun semakin deras. Lampu-lampu jalan mulai kabur di balik tirai air yang jatuh dari langit. Lelaki itu berjalan perlahan, membiarkan tubuhnya basah. Ia tak peduli.
Dia berjalan tanpa tujuan, melewati jalanan kecil di pinggiran kota. Tasikmalaya tampak lengang malam ini, hanya suara hujan dan sesekali deru kendaraan yang terdengar.
Setelah beberapa saat, langkahnya terhenti di depan sebuah rumah sederhana. Rumah itu tidak terlalu besar, dengan halaman kecil yang dihiasi tanaman rambat di pagar depannya. Lampu teras masih menyala, memberikan cahaya hangat di tengah kegelapan malam.
Itu rumahnya.
Rumah wanita itu.
BACA JUGA:Serambi Mesjid Kami Yang Kotor
BACA JUGA:RUMAH MATAHARI 2
Jantungnya berdebar. Ia tidak tahu mengapa kakinya membawanya ke sini. Apa yang ia harapkan?