MALING KONDANG
Ilustrasi-radarutara.bacakoran.co-
BACA JUGA:Tirani Biru dan Isinya yang Terbelenggu
Ketika nanik menyapu halaman rumahnya, terdengar oja memanggil.
“nik,,, nanik,,,nik,,,”
Dengan suara bindeng, ngedumel tidak jelas.
Dengan memakai masker yang diolesi minyak angin, nanik menghampiri oja yang ternyata semalaman penuh ia tidur di lantai tanah dengan beralaskan triplek usang. Lantaran sudah tidak dapat bangun tanpa pertolongan orang lain.
Entah sudah berapa minggu oja sudah tidak merasakan segarnya air untuk mandi. Keadaan oja sungguh mengenaskan. Dengan tubuh membengkak, ia memakai pakaian dan sarung yang lusuh sangat terlihat jika tidak ganti berhari-hari.
BACA JUGA:Dendam Seorang Perempuan
BACA JUGA:Dalam Kebisuanku
“yaampun paman, bagaimana bisa sampai seperti ini keadaanmu,, bagaimanalah anak-anakmu hingga tak sudi merawatmu”
Nanik melakukan semua itu hanya karena ia masih memiliki rasa kemanusiaan. Mengingat oja juga seringkali juga membuat jengkel hatinya. Bagaimanapun juga ia menyadari jika oja tetaplah manusia yang tetap membutuhkan pertolongan.
“aku pasrah, Ikhlas, kapanpun malaikat menjemputku aku siap, aku sudah Lelah sekali”.
Malin sama sekali tak mempedulikan bapknya, ia hanya peduli bagian warisannya yang kelak akan dibangun unit kontrakan jika sepeninggal ayahnya. Padahal hingga saat itu oja masih hidup.
BACA JUGA:Mendoakan Kematian?
BACA JUGA:Tirani Biru dan Isinya yang Terbelenggu
Tidak ada yang sudi mendekat dengan oja, ia hanya diantarkan makanan dua kali dalam sehari oleh malin, terkadang juga malin menyuruh orang suruhan untuk mengantarkan makanan.