Respon Petani, Kenaikan HPP Gabah

Respon Petani, Kenaikan HPP Gabah-Radar Utara/Abdurrahman Wachid-
RADARUTARA.BACAKORAN.CO - Kenaikan Harga Pokok Pembelian (HPP) gabah di Indonesia, dari Rp 6.000 menjadi Rp 6.500 perkilogram sejak 15 Januari 2025 lalu, percikan harapan baru para petani padi.
Ditengah biaya operasional tanaman padi, dari sektor persiapan lahan dan perawatan pestisida yang semakin meningkat, dengan adanya peningkatan HPP gabah itu menjadi spirit baru kaum pejuang pangan di Indonesia.
Konsep kenaikan HPP gabah ini di sambut hangat oleh seluruh petani di seluruh Indonesia.
Termasuk di Provinsi Bengkulu, tepatnya di Kecamatan Armajaya, Kabupaten Bengkulu Utara.
BACA JUGA:HPP Gabah Naik, Harga Beras Naik?
BACA JUGA:Bapanas Tetapkan Harga Gabah Petani Sebesar Rp6.500 Per Kg
Jemari, salah satu petani penggarap sawah di Desa Tebing Kaning, Kecamatan Armajaya, Kabupaten Bengkulu Utara, mengaku senang atas peningkatan HPP gabah tersebut.
"Ya tentunya, alhamdulillah kami senang," ujar Jemari kepada RU, pada hari Rabu, 29 Januari 2025.
Meskipun hanya ada peningkatan Rp 500 per kilogram, lanjut Jemari, setidaknya harga yang baru itu bisa meningkatkan pendapatan para petani padi.
Namun apabila dihitung secara terperinci, kembali oleh ucapkan oleh Jemari, harga Rp 6.500 perkilogram itu masih jauh dari kata ideal.
BACA JUGA:Harga Gabah di Mukomuko Dibawah Harga Pembelian Pemerintah
BACA JUGA:Dear Petani, Ini Sebab Harga Beli Gabah hingga Beras Di Bawah HPP
Dipaparkannya, rata-rata satu kepala keluarga hanya memiliki 1/4 hektar sawah saja.
Untuk modal awal, dari proses pembajakan, upah tanam, pemupukan, penyemprotan menggunakan pestisida, dan biaya panen, membutuhkan budget tidak kurang dari Rp 2 juta.