Penjamah di Tanah Tuah

Ilustrasi-Radar Utara-

BACA JUGA:LELANANGE JAGAD MERINGKUK DI KOSAN

"Leluhur kami tanamkan kebajikan antar alam dan sesame insan. Ku mohon stop sampai di sini.  Kalian telah memiliki luas lahan produktif. Biarkan kami hidup dalam budaya dan corak adat" kataku merendah.

Tiba-tiba terdengar sirine. Tiga mobil barakuda tampak terseok-seok menapaki jalan hauling pada sisikanan pihak perusahaan. Tak lama turunlah kisaran 10 anggota berseragam biru gelap dengan tentengan senjata laras panjangnya.

Aku menggeleng. Tak heran dengan keadaan di depanku. Puluhan kabar telah kami dengar dari saudaraku di daerah lain. Apakah akan sama? Aku coba tawarkan mediasi kembali sebagai bentuk tata kramaku pada negeri.

"Anda saksikan di sana, Tuan petugas" tunjukku pada satu tempat, "blontang, aneka kembang, dupa, dan sesembahan di dekat makam itu adalah symbol ketaatan kami pada leluhur. Puluhan bahkan ratusan tahun pendahulu kami pun demikian. Perusahaan dating sebagai perwakilan pemerintah kami sambut dengan baik. Kalian hadir sebagai penengah kami terbuka dan sedia. Untuk kali ini petugas, bersikaplah bijak. Kami tak niatkan harta apalagi tahta. Hanya budaya leluhur yang kami gaung dan perjuangkan."

BACA JUGA:Perempuan Penggenggam Pasir

BACA JUGA:Sungai Yang Meminta Kedatangan

Satu petugas yang ku rasa adalah pimpinan maju ketengah.

"Saudaraku, Narang. Kedatangan kami sungguh sebagai jembatan perseteruan ini. Harapan kami adalah merangkul agar kita tetap damai dalam satu kesatuan di bumi pertiwi. Makam itu bias kita pindahkan. Itulah yang kami desak kepada petinggi sebagai sebuah jalan keluar selain gantirugi."

Dehen Djata meludah mendengarkan itu. Tak beda dengan yang lain. Watak Dehen yang cenderung enggan basa-basi itu sebenarnya aku kurang setuju.

"Memindahkan makam leluhur hanya akan hasilkan bala. Sekarang kalian di sini. Giring mereka pulang, Tuan petugas"serunya.

Sang pimpinan berbalik disambut oleh Robi yang menyonsongnya. Beberapa dialog rendah terjadi di sana. Kami tak dapat mendengar. Tapi ku tahu pasti petugas-petugas ini akan membela kami.

BACA JUGA:Rubik Hati Naras

BACA JUGA:SESUATU DALAM MAHKOTANYA

Gerimis masih berjatuhan. Aku mengelap wajah terus memandang. Tak lama sang pimpinan segera kembali menghadapkan wajahnya ke kami.

Tag
Share