Kami Tunggu Ibu di Api
Heri Haliling-Dok Radar Utara-
Aku duduk. Orang itu kemudian memberikanku boneka beruang.
"Mery??" kataku terkejut.
Aku heran dengan keberadaanya. Aku peluk boneka kesayanganku itu meski bentuknya sekarang gosong. Kedua mata boneka itu juga hilang.
Dari kaca mobil aku melihat langit yang kian merah. Aku bisik ke Mery, "Kalau kamu jadi ibu, apakah akan marah melihat rumahnya kebakar gini?"
BACA JUGA:Kopi Pahit di New York
BACA JUGA:Jejak Cinta
Ibu aku minta maaf. Gara-gara kami yang gak nurut pesanmu. Ibu jangan marah. Aku ingin senyuman seperti saat ibu sambut Om Han lusa lalu. Aku mohon ya bu, harapanku.
Tapi ibu pasti marah besar. Ini bukan hal kecil. Jika cubitan itu kami rasakan dari sikap yang mecahin benda, ini lebih kacau lagi. Aku sekarang tau bu. Kau benar. Seperti kata ibu yang sering kami dengar, kami gangguan. Nyatanya dunia juga bilang begitu. Semua itu wajar! Aduh bodohnya.
"Kalau kamu? Marah tidak Mery?"
Aku cabuti beludrunya yang setengah hangus.
"Tentu kamu tak marah, bukan? Kamu beda dengan ibu. Kamu itu buta! Ibu tidak."
______Selesai______
BACA JUGA:Kopi Pahit di New York
BACA JUGA:Jejak Cinta
Bionarasi