Tirani Biru dan Isinya yang Terbelenggu
Heri Haliling-Heri Haliling/Dok Radar Utara-
Tiga hari ini suasana kami sedang sengkarutan. Awalnya dari sebuah telepon dengan nada peringatan untuk tidak hadir ke acara itu.
Keluarga kecilku sudah ku nasihati agar tak perlu cemas. Walaupun sulit, aku yakin ada perubahan mimik ketenangan dari roman mereka. Namun tak sampai beranjak pagi, sebuah malam penuh keributan terjadi.
Aku dan Rohmat dibuat tercekat. Kapal kami dirusak hebat menggunakan kapak dan gergaji. Lebih mencengangkan lagi setelah ku cari tahu ternyata kapal sebagian warga juga sama naasnya.
Alhasil nyali warga mulai terlihat ciut. Bahkan ku kira sekarang keberpihakan itu menjadi semacam pembelotan. Usut punya usut mereka juga menerima pesan ancaman. Mereka diminta menghentikan aksi dan melarang aku untuk datang di acara tv itu.
BACA JUGA:Serambi Mesjid Kami Yang Kotor
BACA JUGA:RUMAH MATAHARI 2
Aku tak terima dan paginya segera menuju kantor petugas. Ku utarakan pengancaman ini dan membuat laporan.
Terima kasih atas laporannya. Segera akan kami tindak lanjuti dan berikan kabar" begitu respon kata salah satu petugas.
Faktanya hasilnya bualan. Pada hari ke empat saat istri dan anakku berbelanja ke pasar, seorang tak dikenal dengan mengendarai avanza menabrak mereka. Aku panik bukan kepalang mendengar kabar itu. Ku putuskan pulang dari lokasi perbaikan kapal.
Menuju klinik aku saksikan dua orang yang ku kasihi tengah kembang kempis dibalut perban dan selang. Aku terpekur di sudut kursi dengan merangkum wajah. Semua seperti mimpi yang berlangsung begitu cepat. Rohmat segera menasihatiku dengan kesamaan pendapat yang lain.
BACA JUGA:Dendam Seorang Perempuan
BACA JUGA:Dalam Kebisuanku
"Hal ini tak bisa dibiarkan, saudaraku" kataku sesak dendam.
"Lantas kau hendak ke mana?"
"Aku yakin suruhan orang ini begitu dekat. Malam ini aku akan melabrak Pak Birma. Beliau pasti terlibat!"
