Iklan doni 2

Tirani Biru dan Isinya yang Terbelenggu

Heri Haliling-Heri Haliling/Dok Radar Utara-

Biar kami persembahkan gugatan dari pesisir. Pagi itu sekitar 200 orang yang berprofesi sebagai nelayan di mana desanya terbelah pagar laut berkumpul menyampaikan aspirasinya ke kantor Dinas Kekayaan Laut.

Pagar betis dari puluhan petugas tampak berdiri kokoh. Sementara itu spanduk-spanduk berisi  narasi keadilan dan penindasan terbentang melalui cengkraman tangan kami. 

BACA JUGA:Dendam Seorang Perempuan

BACA JUGA:Dalam Kebisuanku

Kesempatan baik ini tentu tak dilewatkan para wartawan. Sinar video dan jepretan kamera memeriahkan suasana. Banyak wawancara terjadi.

Sebagai nelayan tentu hal tersebut buat kami kikuk. Menghindari perasaan itu aku yang diberikan kepercayaan sebagai pemimpin unjuk rasa lebih banyak menolak menjawab dan fokus pada orasiku sejak tadi.

"Korporasi busuk adalah dalang di balik pembangunan. Pagar itu bahkan sudah ada sertifikatnya! Bukalah hatimu Pak Birma! Bukan perkara seberapa tebal mereka membayar, tapi tentang nurani kalian yang telah tergadaikan. Percayalah, jika pagar laut ini diteruskan 10-15 tahun lagi, kita akan sama rata dalam sejarah hina kaum pribumi!" teriakku tegas tanpa sebutir debu ketakutan.

"Cukup melangkah lebih jauh! Tuduhan ini bisa celakakan kau dan keluargamu! Jika perkara solar dan sulitnya cari ikan karena bambu di sana menggantikan bakau dan terumbu karang, mungkin memang belum musimnya saja. Kerang hijau bisa kalian jadikan pilihan sementara."

BACA JUGA:Serambi Mesjid Kami Yang Kotor

BACA JUGA:RUMAH MATAHARI 2

Pak Birma selaku kepala dinas bersikeras bahwa tidak punya wewenang untuk itu. Seperti biasa, saling lempar kewenangan kemudian terjadi. Sementara aku makin jijik menyaksikan sesekali sesungging senyumnya itu berpelembab keringat dan sampah.

Dalam pandangan rendahku, sekejab terdengar celetukan dari seorang pria tegap di depanku. Dia bagian dari petugas yang memagari kami.

"Jelata, pulang! Gelombang ini hanya akan jadi riak saat di pesisir. Urusi keluargamu atau kau akan jadi buangan!"

Aku memandang pria tegap itu. Apakah itu nasihat? Atau mungkin sebuah ancaman? Aku mengelakkan mata dan telingaku untuk provokasi ini. Aku terus mencecar kebijakan Pak Birma.

BACA JUGA:Dendam Seorang Perempuan

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan