Curhatan Petani Hasil Padi Semakin Merosot

Curhatan Petani Hasil Padi Semakin Merosot -Radar Utara / Abdurrahman Wachid-
RADARUTARA.BACAKORA.CO - Hasil panen padi para petani semakin tahun bukan semakin meningkat, malah cenderung mengalami kemerosotan.
Perbandingannya, 3/4 hektar sawah dahulu bisa menghasilkan 125 karung, namun saat ini maksimal hanya menghasilkan 75 karung saja.
Perbedaan kian kentara jika dipadukan dengan keterangan masyarakat kaum tua yang telah menggarap sawah sejak masa pemerintah rezim orde lama, Suharto.
Slamet, putra transmigrasi gelombang 2 di Indonesia asal Jawa Tengah yang ditempatkan di Kelurahan Kemumu pada tahun 1553 itu, menjadi saksi sejarah perkembangan pertanian di Kelurahan Kemumu, Kecamatan Arma Jaya.
BACA JUGA:Tanam Merk Sibejo, Sisa Semangat Petani Padi di Bengkulu
BACA JUGA:Ratusan Hektar Untuk Jagung dan Padi Gogo
Ia dilahirkan satu tahun tepat setelah orang tuanya tiba di Kelurahan Kemumu, tepatnya tahun 1954 lalu.
Apalagi sekolah, menjadi sesuatu yang sulit baginya, dari kecil ia telah membantu orang tuanya, menggarap ladang jatah atau pemberian dari pemerintah tersebut, sekitar 2 hektar per kepala keluarga.
Beberapa tahun kemudian, ia juga menjadi saksi program raksasa rezim Presiden Soeharto yakni cetak sawah dan pembangunan bendungan dan saluran irigasi di seluruh persawahan kemumu dan sekitarnya.
Pada masa itu, para petani diberikan bibit padi merk PB 5 dan pupuk secara percuma dari pemerintah untuk dibudidayakan kepada seluruh petani.
BACA JUGA:Wujudkan Swasembada Pangan, Butuh Sinergi Lintas Sektor, Disbun Siap Lahan Padi Gogo
BACA JUGA:Sawah Kemumu Diprediksi Hanya Sekali Musim Tanam Padi di 2025
Termasuk jenis bantuan racun hama juga diberikan hanya satu merek saja, teruji keampuhannya sangat luar biasa.
"Kalau dulu, bibit padi bantuan itu cuma ada merek PB 5, pupuk juga bagus, termasuk racun cuma ada satu macam,"ucap Slamet, saat dibincangi RU, pada hari Minggu, 16 Maret 2025.