Cecep Ingin Menjadi Kaya
Mahrus Prihany-ist-
Cecep sendiri telah lama ditinggal ibunya. Ibu Cecep sesungguhnya sosok yang baik dan penuh kasih sayang, tak seperti ayahnya yang begitu kasar.
Jika ibu pergi, itu bukan karena keinginannya, tapi ia diusir oleh ayah Cecep. Ibu menangis dan ingin membawa Cecep bersamanya, namun ayah marah dan mengamuk.
BACA JUGA:Dendam
BACA JUGA:Di Balik Pintu Hotel Melati
Tentu ayah tidak mau kehilangan tenaga yang bisa membantunya di kebun. Ibu dan Cecep sendiri tak bisa berbuat apa-apa saat itu kecuali hanya menangis.
Hal itu terjadi saat Cecep duduk di bangku kelas empat SD. Sejak itu hidup Cecep menjadi hampa namun ia tak bisa larut berlama-lama.
“Kalau Kau masih saja menangis, pergilah sana kau. Kau tak tahu bahwa hidup di luar sana lebih keras dari yang kau alami sekarang,” bentak ayahnya, dan Cecep merasa takut namun ia sungguh menyimpan dendam.
“Kenapa Ayah dulu melarang Ibu membawaku?” Batin Cecep. Ibu dulu mau pergi juga karena sesungguhnya tak tahan atas perilaku kasar ayahnya.
BACA JUGA:Wajahmu Berbeda
BACA JUGA:Sekuntum Mawar dengan Tangkai yang Patah
Selulus SD, Cecep meminta ayahnya untuk membiayai sekolahnya di SMP tapi ayahnya enggan mengeluarkan uang untuk biaya sekolah.
Ayahnya memaksa Cecep untuk membantu menggarap kebun juragan Juned saja. Cecep sendiri merasa bahwa ayahnya tak peduli pada pendidikannya. Cecep tak ingin miskin seperti ayahnya yang hanya buruh tani.
Keinginan besar untuk menjadi orang kaya – sementara tak mungkin bisa terwujud jika ia tak bersekolah – membuat keberanian Cecep tumbuh untuk menemui juragan Juned, memohon kepada juragan itu untuk membantu biaya pendidikannya di SMP.
Cecep juga memohon juragan itu untuk memberi pengertian pada ayahnya agar mengizinkan dirinya bersekolah di SMP. Juragan Juned meski tampak enggan akhirnya mengabulkan juga permohonan Cecep.
BACA JUGA:Dendam
