Perempuan Penggenggam Pasir
Ilustrasi-radarutara.bacakoran.co-
"Kamu nggak perlu larut lebih jauh. Udah bener keputusanmu. Kamu berhak bahagia. Larung sesak dan kenangan. Tiba di Macau nanti, nikmati surga yang disediakan Tuhan untukmu," kata Bunda Sofia, mucikari yang jadi induk semang Zulaikha.
Tubuhnya gemuk, riasan tebal dengan mata sayup teduh. Bunda Sofia merupakan sosok dingin yang disegani di kingdom prostitusi bentukannya.
BACA JUGA:LELANANGE JAGAD MERINGKUK DI KOSAN
BACA JUGA:Wanita yang Nglungsungi Seperti Ular
Belum usai. Zulaikha menggigit bibir bawahnya dengan gigi.
"Om Handarbeni?"
"Oh tidak lagi" geleng Bunda Sofia malas melanjutkan "bedebah tua itu mati karena over, Zulaikha? Bukan salahmu."
"Tapi..."
"Untuk itulah kita di sini" potong Bunda. "Bunda nggak mau kamu balik ringkih lagi."
"Bang! Bener nggak ini titik koordinatnya. Sudah sejam lebih" gerutu Anggi, seorang dari 6 penumpang termasuk Zulaikha. Semuanya berprofesi sama.
BACA JUGA:Sungai Yang Meminta Kedatangan
BACA JUGA:Rubik Hati Naras
"Udah nggak usah ngeluh, oke" komando Bunda Sofia "lepas ini, bunda nggak bisa lagi dampingi kalian. Nah itu...!!!" tunjuk Bunda ke sebuah kapal kargo yang pelan mendekat.
***
Dalam kabin kapal kargo semua perempuan muda nan cantik itu berkumpul. Induk semang mereka sedang rapat dengan babon baru yang akan menjadi germo pengganti selama tinggal di Macau.
