Perempuan Penggenggam Pasir
Ilustrasi-radarutara.bacakoran.co-
BACA JUGA:Kembali ke Laut
Pria bawahan Pak Mansyur itu tersenyum pucat. Pak Mansyur mengerti bahwa uraian itu adalah pertalian. Dengan siluet gelap di antara sela rambutnya yang kuyu, Pak Mansyur menebak.
" Benarkah sekoci tak akan sempat menjarak dan akan segera terperangkap pusaran karam kapal?"
Zulaikha merasakan keheningan di antara keriuhan. Dua pria itu yang berbicara itu kini bisu ditampari angin dan air hujan.
"Tidak malam ini! Bapak tak perlu ke sana. Orang lain saja. Zulaikha mohon satu kali ini saja Bapak nurut!"
" Di sini bapak adalah seorang mekanik. Sudah kewajiban bapak lakukan hal itu" terang sang ayah sambil mencium kening Zulaikha.
BACA JUGA:FATAMORGANA BRAVIA MANJIA
BACA JUGA:FATAMORGANA BRAVIA MANJIA
"Turunkan sekoci!" perintah Pak Masyur.
Rekan ABK segera menuruti.
Zulaikha menggelijang berontak kesetanan hendak memburu naik tapi Anggi dan Dila menahannya. Soar di atas kepala Pak Mansyur menyinari dan ejakan luka. Dari bawah, Zulaikha berteriak hancur berserak-serak. Kapal makin tak seimbang. Semua makin keruh. Manakala sekoci hanyut menjauh dipermainkan ombak, Zulaikha memandang butiran pasir itu luruh dalam sela genggamannya.
*****Selesai******
