Iklan doni 2

Perempuan Penggenggam Pasir

Ilustrasi-radarutara.bacakoran.co-

 Pendidikan? Jangan tanya. Zulaikha, perempuan dengan hidung mancung dan dagu menjuntai itu merupakan insan yang tumbuh dari atap hukum rimba.

Zulaikha bukan barisan anak berkemeja putih yang senang dengan santapan buku. Sejak kecil, terlebih masa di mana emaknya telah tiada, menu sarapan Zulaikha adalah paket komplit makian.

Duduk menyandar dinding pada sebuah ruang di kapal Tagbut dalam ombang ambing  gelombang, Zulaikha tersenyum mengingat bakat turunan emak yang melekat dalam dirinya sekarang.

Mulanya tentu tak hendak untuk Zulaikha mewarisi profesi laknat ini. Kendati kena cerca dengan sebutan anak haram, Zulaikha berusaha bekerja pada lahan halal.

BACA JUGA:Defisit Kebudayaan: Sastra dalam Bayangan Pasar dan Prinsip 5W-1H

BACA JUGA:Kembali ke Laut

Jualan sayur sampai jaga ruko pernah ia lakoni. Kisaran 3 tahun Zulaikha betah, sebelum pemilik ruko yang seorang Cina berhasil membekap dan mengangkanginya.

Sialnya, dua hari usai peristiwa itu dengan wajah menyala merah, Tachi pirang sebagai istri sah pemilik ruko berontak bersama hentakkan sumpah serapahnya.

"Pelakor sundal!!"

Seolah membenarkan sebuah prediksi, tentu saja tepuk tangan ramai penuh kecongkakan dari tetangga Zulaikha segera bergemuruh.  Jika sudah begini, nuansa di kampung pesisir pinggiran kota itu bagi Zulaikha tak ubahnya neraka. 

Zulaikha menyaput dua sisi matanya yang lembap dan panas. Berbuat baik dengan latar belakang keliru tetap akan menghasilkan sebuah kesalahan.

BACA JUGA:Ibu Sambung

BACA JUGA:FATAMORGANA BRAVIA MANJIA

Adakah masih nyeri dan luka untuknya? Zulaikha memegang perutnya. Sadar setelah tragedi itu bahwa di dalam perutnya telah disusupi daging di luar rahim. Hamil anggur istilahnya.

Tetangga? Jangan tanya lagi. Kesekian kali cemeti lidah mereka memecut hati. Cambukan itu bertambah pilu tak bertata krama manakala Zulaikha harus memutuskan untuk pengguguran janin. 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan