Tuangan Teh Terakhir

Ilustrasi-radarutara.bacakoran.co-

Karya: Yudha Adi Putra

Tak banyak orang yang tahu nama aslinya. Kalau tertawa, hanya tampak beberapa gigi saja, dan guratan wajah tua. Sore ini juga begitu, tubuh kurusnya masih kuat mengangkat beberapa es batu. Tangannya tampak penuh kerutan, otot terlihat, dan beberapa luka. Seolah hendak mengatakan bahwa sudah senja usianya, waktunya beristirahat. Sangat jarang dia mengeluh sakit, justru sering mendengarkan keluhan anak muda yang sakit. Mulai dari sakit hati sampai sakit karena tabrak lari. 

"Teh panas satu, Mbah. Kok tumben sepi ini?" tanya pengemudi ojek online sembari melepaskan jaketnya. Jaket yang menemani berjuang siang dan malam. Sudah tampak lusuh, ada beberapa sobekan di sana - sini. Wajahnya tampak cemas memperhatikan sepeda motor yang diparkir tepat di samping kos-kosan baru. Sepeda motor yang sudah 3 tahun ini menemaninya mengantarkan makanan, tapi tak kunjung lunas juga cicilannya. Sepeda motor yang pernah diambil penagih hutang, ketika cicilannya tak kunjung dibayarkan. Dan, di sore hari menjelang malam itu, sepeda motor di hadapannya, seolah memberikan semangat.

"Mungkin baru pada malam mingguan," jawab lelaki tua itu sambil meraih saringan teh, banyak pengunjung yang menyebutnya Mbah Gareng. Lelaki usia 70an yang setia menemani pejuang rupiah di kala senja hingga malam, bahkan dini hari.

Di hadapan Mbah Gareng, ada anglo kecil, sudah sangat lama menemaninya. Beberapa makanan juga tersedia, tapi hanya itu-itu saja, nasi sambel serta tahu tempe. Tak banyak berubah dari hari ke hari.

BACA JUGA:DOTI LAMAIKA

 

"Mbah sendiri tidak malam mingguan?" tanya pengemudi ojek online itu, banyak yang menyapanya, Sartono. Tidak banyak yang tahu, kalau di belakang namanya, tersemat Sarjana Ekonomi. Mbah Gareng tahu itu. Mbah Gareng juga tahu, banyak surat lamaran pekerjaan yang dikirimkan ke sana dan ke mari, tapi tidak kunjung ada panggilan. Hingga mengantarkan makanan melalui ojek online, itu dipilihnya, sebab kebutuhan hidup tidak bisa menunggu, bahkan dia sudah berkeluarga. Hanya saja, semua sudah diupayakan untuk bekerja dan berusaha selalu saja kalah dengan pemilik relasi. Hanya relasi Mbah Gareng yang berhasil membawanya kembali. Kembali, bahkan di malam minggu, untuk teh hangat.

Pertanyaan itu hanya dibalas dengan curahan teh dari teko ke gelas. Suasana hening. Kendaraan tak terdengar, waktu padahal belum terlalu malam. Banyak pengemudi ojek online yang berkumpul di sana ketika malam. Tempat wedangan Mbah Gareng menjadi favorit, bukan karena makanannya banyak atau enak, bukan pula karena tempatnya mewah, hanya karena murah.

Bagi pengemudi ojek online, Mbah Gareng adalah penyelamat untuk hemat. Saat bertarung dengan panasnya jalanan kota Solo, belum lagi beragam karakter pengguna saja, rehat menikmati teh bisa menjadi sedikit jeda. Jeda sebelum akhirnya angsuran tiba. Tak jarang, ketika hari jatuh tempo angsuran sudah tiba, gali lubang tutup lubang untuk utang mereka lakukan. Semua itu terjadi di tempat Mbah Gareng, bahkan pernah ketika hendak demo, wedangan Mbah Gareng jadi tempat untuk mengatur strategi. Mungkin beberapa petugas keamanan sudah mengetahui, tapi keamanan Mbah Gareng adalah kepercayaan tetangga kanan dan kiri. Itu lebih melindungi.

Banyak cerita dan air mata terjadi di sana. Semua dilayani oleh Mbah Gareng. Seduhan teh tubruk dari panas arang yang dibakar, ditemani cahaya lampu remang-remang, dan telinga yang siap mendengar tanpa memberikan penghakiman. Tak banyak yang tahu kehidupan pribadi Mbah Gareng. Punya anak berapa, atau asli orang mana, yang mereka tahu, Mbah Gareng selalu ada ketika diperlukan, meski sesederhana untuk hutang teh hangat.

BACA JUGA:Kami Tunggu Ibu di Api

 

Malam itu, sorot mata Mbah Gareng tampak sayu, bulan sedang purnama, hawa terasa dingin. Mbah Gareng setelah membuat teh, meraih pipa tulang yang disimpannya di antara arang. Pipa itu setia menemaninya merokok dari malam ke malam. Tembakaunya hanya sedikit, membuat Mbah Gareng sedikit ragu, tapi dirinya merasakan dingin. Hanya arang yang dibakar menjadi penghayat. Beberapa pengemudi ojek online tida kunjung tiba, hanya Sartono, pengemudi ojek online yang memilih merencanakan pulang lebih awal karena istrinya hamil tua.

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan