Iklan doni 2

Indonesia Cerah, Produksi Padi Melonjak dan Serapan Gabah Tinggi

Presiden Prabowo Subianto mengoperasikan mesin pemanen saat panen raya padi di Desa Randegan Wetan, Ligung, Majalengka, Jawa Barat, Senin (7/4/2025). Presiden Prabowo memimpin panen raya padi secara serentak bersama petani di 14 provinsi dan 157 kabupaten-ANTARA FOTO/Dedhez Anggara-

RADARUTARA.BACAKORAN.CO - Optimistime bangsa ini semestinya membuncah ketika produktivitas pertanian meningkat. Indikatornya adalah panen raya padi yang meningkat. Karena itu, Presiden Prabowo Subianto menilai keadaan Indonesia saat ini sebetulnya terbilang cerah dan tidak gelap.

“Saya juga heran, ada orang yang mengatakan Indonesia gelap. Kalau dia memang merasa gelap itu hak dia. Tetapi kalau saya bangun pagi, saya lihat Indonesia cerah. Saya ketemu petani, petani gembira. Peningkatan hasil mereka naik secara drastis, produksi naik secara drastis,” kata Presiden Parabowo dalam acara Sarasehan Ekonomi Bersama Presiden Republik Indonesia di Jakarta.

Presiden juga menegaskan bahwa pemerintah telah memangkas sejumlah aturan untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Antara lain terkait aturan distribusi pupuk. “Kita potong semua regulasi yang tidak benar, kita sederhanakan,” ujar  Kepala Negara.

BACA JUGA:Produksi Padi di Mukomuko 31.764 Ton Per Musim

BACA JUGA:Musim Tanam Satu, Produksi Padi di Mukomuko 31.764 Ton

Mata rantai birokrasi yang panjang membuat distribusi tidak merata, bahkan membuat harga jual ke petani menjadi mahal. Presiden Prabowo menguraikan penyebabnya adalah untuk menyalurkan pupuk bersubsidi harus melewati tanda tangan 15 menteri, 30 sekian gubernur, 500 bupati, baru kemudian sampai ke Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani).

“Saya bilang ke Menteri Pertanian, dari pabrik pupuk langsung ke petani, enggak ada lagi itu tandatangan-tandatangan. Langsung! Alhamdulillah, pupuk yang tadinya langka yang tadi banyak diselundupkan, yang banyak di korupsi, sekarang sampai ke desa-desa,” ungkap Kepala Negara.

Presiden menambahkan begitu perizinan-perizinan dihilangkan, arus distribusi pupuk menjadi lancar dan produksi menjadi naik. Soal pupuk menjadi masalah pelik bagi petani dalam beberapa tahun terakhir.

Sebelumnya saat acara Panen Serentak 14 Provinsi di Majalengka, Jawa Barat, Senin (7/4/2025), Kepala Negara menyampaikan bahwa Data Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada April 2025, potensi luas panen nasional mencapai 1.595.583 hektare (ha), dengan estimasi produksi sebesar 8.631.204 ton gabah kering giling (GKG) atau setara 4,97 juta ton beras. Secara kumulatif, produksi Januari–April 2025 tercatat 13.948.785 ton GKG, angka tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.

BACA JUGA:5 Ribu Orang di Pulau Terluar Terancam Krisis Pangan dan Energi, Butuh 33 Ton Beras Untuk Enggano

BACA JUGA:Rente jadi Celah Pengganggu Serapan Gabah Pemerintah

Empat belas provinsi utama seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sumatra Selatan, Aceh, Lampung, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Sulawesi Selatan tercatat menyumbang hampir 91,42 persen produksi nasional bulan ini.

Dengan luas panen 1,43 juta ha dan produksi 7,89 juta ton GKG, wilayah ini menjadi tulang punggung produksi nasional. Jawa Timur menjadi penyumbang terbesar, disusul Jawa Barat dan Jawa Tengah. Di luar Pulau Jawa, kontribusi tertinggi berasal dari Sulsel, Lampung, dan NTB.

Presiden Prabowo pun menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya terhadap capaian ini yang menurutnya merupakan hasil dari kerja keras para petani serta sinergi lintas sektor.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan