Iklan doni 2

Gara-gara Wabah Ngorok, Populasi Kerbau di Mukomuko Terancam Punah

Akibat penyakit ngorok, populasi kerbau di Mukomuko berkurang-Radar Utara/ Wahyudi -

MUKOMUKO, RADARUTARA.BACAKORAN.CO – Wabah penyakit ngorok atau Septicemia Epizootica (SE) yang menyerang hewan ternak milik warga sejak beberapa bulan terakhir menyebabkan penurunan drastis jumlah kerbau, terutama yang selama ini menjadi salah satu sumber penghidupan warga di wilayah Kabupaten Mukomuko.

Berdasarkan data Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko, tercatat populasi kerbau saat ini hanya tersisa sekitar 4.000 ekor. Jumlah itu turun drastis dari sebelumnya sekitar 5.000 ekor yang tersebar di berbagai kecamatan di Kabupaten Mukomuko.

"Penurunan ini disebabkan karena kerbau milik warga banyak yang mati akibat wabah ngorok. Selain itu, ada juga ternak yang terpaksa dipotong paksa atau dijual murah karena sudah menunjukkan gejala penyakit," ungkap Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Mukomuko, drh Diana Nur Wahyuni.

Pihaknya mengaku telah melakukan sejumlah upaya untuk mengendalikan penyebaran penyakit tersebut. Salah satunya melalui penyuntikan vaksin kepada hewan ternak, khususnya kerbau. Bahkan, belum lama ini Pemerintah Pusat telah menyalurkan bantuan vaksin ke Kabupaten Mukomuko sebagai bentuk tanggap darurat atas wabah yang terjadi.

Namun sayangnya, pelaksanaan vaksinasi belum berjalan maksimal. Hal ini disebabkan oleh kebiasaan sebagian besar peternak di daerah ini yang membiarkan ternaknya berkeliaran bebas tanpa dikandangkan, atau yang biasa disebut dengan sistem lepas liar.

BACA JUGA:Jelang Idul Adha, Kemenag Mukomuko Keluarkan Edaran Waspadai Wabah Ngorok

BACA JUGA:Ratusan Ternak di Mukomuko Mati Akibat Wabah Ngorok

"Kami kesulitan melakukan vaksinasi pada ternak yang dilepasliarkan. Petugas sudah turun ke lapangan, tapi ketika hewan-hewan tidak dikandangkan, maka akses untuk vaksinasi jadi terbatas. Padahal kami sudah berkirim surat kepada para kepala desa agar membantu mengoordinir warganya untuk mengumpulkan ternaknya. Tapi sampai sekarang belum juga dilaksanakan secara maksimal," jelasnya.

Sementara itu, untuk kerbau yang dimiliki oleh pedagang atau peternak skala menengah ke atas, rata-rata sudah divaksin karena hewan-hewan tersebut dikandangkan dan mudah diakses oleh petugas.

Diana menambahkan, penyakit ngorok merupakan penyakit yang sangat menular dan dapat menyebar dengan cepat, terutama saat musim pancaroba. Gejalanya ditandai dengan demam tinggi, kesulitan bernapas, dan pembengkakan pada bagian leher. Jika tidak segera ditangani, hewan yang terinfeksi bisa mati dalam waktu singkat.

Kondisi ini dikhawatirkan akan semakin memukul sektor peternakan rakyat, terlebih kerbau di Mukomuko selama ini bukan hanya digunakan untuk pembibitan dan konsumsi, tetapi juga memiliki nilai budaya dan ekonomi tinggi bagi masyarakat pedesaan.

BACA JUGA:Peternak Diminta Waspada Wabah Ngorok Belum Teratasi

BACA JUGA:Penyakit Ngorok Terus Mengancam Peternak Sapi di Mukomuko

Dinas Pertanian pun kembali mengimbau kepada seluruh warga peternak, khususnya para pemilik kerbau, untuk lebih proaktif dalam mengamankan ternaknya. Salah satunya dengan mengikuti instruksi dinas dalam proses pengumpulan ternak untuk divaksin dan tidak lagi membiarkan ternak berkeliaran bebas.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan