Sinergi Lintas Sektor Selamatkan Generasi Anak Bangsa dari Stunting
Petugas mengukur lingkar kepala seorang balita di Posyandu Cempaka, Beran, Ngawi, Jawa Timu. -ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/wpa-
RADARUTARA.BACAKORAN.CO - Upaya Pemerintah Indonesia dalam menurunkan angka stunting terus menuai hasil positif. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang diumumkan oleh Kementerian Kesehatan, prevalensi stunting nasional berhasil ditekan hingga 19,8 persen, melampaui target tahunan sebesar 20,1 persen.
Keberhasilan ini merupakan buah dari kerja sama erat lintas kementerian, pemerintah daerah, serta partisipasi aktif masyarakat dalam menciptakan lingkungan sehat dan mendukung perbaikan gizi anak.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Menkes RI) Budi Gunadi Sadikin menekankan bahwa capaian ini bukan akhir dari perjuangan, tetapi tonggak penting menuju target jangka panjang penurunan stunting hingga 14,2 persen pada 2029.
“Target ini cukup menantang, tetapi bisa dicapai dengan kerja keras dan kolaborasi lebih erat, terutama di enam provinsi dengan jumlah balita stunting terbesar,” ujar Menkes Budi di Jakarta.
BACA JUGA:Pemerintah Desa Miliki Peran Penting Turunkan Angka Stunting
BACA JUGA:Kecamatan Gelar Rembuk Stunting dengan Desa, Tekankan Penguatan Program Pemberdayaan Berbasis DD
Strategi Nasional Berbasis Kolaborasi
Stunting, sesuai definisi Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021, merupakan gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang berdampak pada tinggi badan anak di bawah standar.
Kondisi ini tidak hanya berpengaruh pada tumbuh kembang anak secara fisik, tetapi juga kognitif dan produktivitas jangka panjang. Oleh karena itu, upaya penanggulangan stunting mengedepankan pendekatan multisektor dan dimulai sejak masa prakelahiran.
Sejalan dalam Strategi Nasional Percepatan Penurunan Stunting (Stranas P3S), intervensi difokuskan pada dua jenis: intervensi spesifik melalui sektor kesehatan (misalnya pemberian tablet tambah darah untuk remaja putri dan ibu hamil), serta intervensi sensitif seperti penyediaan air bersih, edukasi gizi, dan perbaikan sanitasi lingkungan.
Sebagai bagian dari strategi tersebut, Kementerian Kesehatan juga terus memperkuat layanan di Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dengan distribusi alat antropometri yang akurat, peningkatan kapasitas kader, serta pendistribusian makanan tambahan (PMT) berbasis pangan lokal.
BACA JUGA:Jarang Diketahui, Ini Dampak Dari Stunting yang Perlu Diwaspadai
BACA JUGA:Rembuk Stunting Jelang Lebaran, Desa Bumi Harjo Salurkan BLT-DD 4 Bulan Sekaligus
Dampak stunting pada anak akan terlihat pada jangka pendek dan jangka panjang. Pada jangka pendek berdampak terhadap pertumbuhan fisik, yaitu tinggi anak di bawah rata-rata anak seusianya.
Selain itu, juga berdampak pada perkembangan kognitif dikarenakan terganggunya perkembangan otak sehingga dapat menurunkan kecerdasan anak. Sedangkan untuk jangka panjang, stunting akan menyebakan anak menjadi rentan terjangkit penyakit seperti penyakit diabetes, obesitas, penyakit jantung, pembuluh darah, kanker, strok, dan disabilitas di usia tua.
