Menyemai Generasi Emas 2045 Lewat Sekolah Rakyat
Petugas menata papan tulis ruangan kelas Sekolah Rakyat untuk jenjang SMA di Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL), Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (8/3/2025). -(ANTARA FOTO/ Asprilla Dwi Adha)-
RADARUTARA.BACAKORAN.CO - Kendati jumlah sekolah di Indonesia terus bertambah. Masalah serius yang perlu menjadi perhatian bersama adalah masih cukup tinggi angka putus sekolah mulai dari jenjang SD hingga SMA.
Berdasarkan data Pusat Data dan Informasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) pada tahun ajaran 2023/2024 tercatat ada 1.267.630 yang lulus dari salah satu jenjang sekolah, tetapi tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Kemudian, juga ada 1.153.668 anak yang lulus sekolah dan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi namun berhenti di tengah jalan alias dropout.
Tentu saja hal ini menjadi pertanyaan besar mengapa angka putus sekolah di Indonesia dapat meningkat setiap tahunnya. Jika melihat dari jumlah sekolah yang tersebar di Indonesia, tentunya untuk jumlah sekolah yang dapat menampung anak dalam melanjutkan pendidikan bukan lagi menjadi masalah utama.
BACA JUGA:Jadi Incaran dan Mencetak Generasi Emas! Inilah 6 Daftar Negara dengan Pendidikan Terbaik di Dunia
BACA JUGA:Wujudkan Generasi Emas, Pemkab Mukomuko Kampanyekan Gemar Makan Ikan
Salah satu alasan yang menjadi meningkatnya angka putus sekolah adalah masalah ekonomi. Tidak semua anak berasal dari keluarga yang secara ekonomi, mampu menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang yang tinggi.
Mengacu hasil Survei Ekonomi Nasional (Susenas) pada 2021, tercatat 76 persen keluarga mengakui anaknya putus sekolah karena alasan ekonomi. Sebagian besar (67,0 persen) diantaranya karena tidak mampu untuk membayar biaya sekolah, sementara sisanya (8,7 persen) karena harus mencari nafkah.
Padahal sesuai Konstitusi, pendidikan memiliki peran utama dalam “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Setiap anak, termasuk yang berasal dari keluarga tidak mampu, harus mendapatkan pendidikan yang layak agar dapat berkembang dan berkontribusi bagi negara.
Untuk itu, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menggagas pendirian Sekolah Rakyat (SR). Pada tahun ajaran 2025/2026 Juli mendatang diharapkan sudah bisa diresmikan 40 Sekolah Rakyat dan 160 Sekolah Rakyat di Desember 2025.
BACA JUGA:Hasil Sidak Sitem Acak, 14 Sekolah di Mukomuko Gelar KBM di Hari Pertama Usai Libur Idul Fitri
BACA JUGA:Sekolah Rakyat, Rekrutmen Guru hingga Lahan Calon Sekolah
Nama Sekolah Rakyat ini identik dengan sekolah dasar untuk kaum pribumi pada masa penjajahan Belanda yang pertama kali dibuka pada tahun 1892 di Bandung, Jawa Barat. Sekolah ini dikenal dengan nama Volkschool (Sekolah Rakyat). Sampai akhirnya Sekolah Rakyat diubah menjadi Sekolah Dasar (SD) pada 13 Maret 1946.
Pembangunan SR sebagai sebuah komitmen pemerintah untuk memutus rantai kemiskinan struktural. Sekolah Rakyat, sebuah sistem pendidikan asrama (boarding school) gratis bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu, anak jalanan, serta mereka yang tidak memiliki akses terhadap pendidikan layak.
