Warga Mukomuko Enggan Ikut Vasektomi

Kepala DP2KBP3A Kabupaten Mukomuko, R Panji Surya, SH-Radar Utara/ Wahyudi -

MUKOMUKO.RADARUTARA.BACAKORAN.CO - Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Perlindungan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) Kabupaten Mukomuko menyatakan.

Hingga sekarang ini belum ada warga khususnya kaum pria mendaftar ikut program KB metode vasektomi.

Kendati Pemerintah Daerah Kabupaten Mukomuko, terus menggalakkan program keluarga berencana sebagai upaya pengendalian penduduk.

Kepala DP2KBP3A Kabupaten Mukomuko, R Panji Surya, SH ketika dikonfirmasi menjelaskan. Vasektomi ini sudah cukup lama diperkenalkan sebagai salah satu metode kontrasepsi pria jangka panjang.

BACA JUGA:Program KB Berhasil Sejumlah Sekolah Negeri di Mukomuko Sepi Siswa

BACA JUGA:557 Warga Mukomuko Ikut Program KB

Namun, persentase penggunanya di Kabupaten Mukomuko tidak pernah mencapai 1 persen dan cenderung terus menutun alias zonk.

Persoalan sosial budaya hingga lebih terbatasnya tenaga dan fasilitas kesehatan yang melayaninya, membuat vasektomi sulit berkembang.

"Sedangkan pilihan kontrasepsi modern bagi laki-laki memang sangat terbatas, hanya ada kondom dan vasektomi. Meski vasektomi memiliki tingkat keberhasilan mencegah kehamilan sangat tinggi, nyatanya metode kontrasepsi mantap ini tidak dilirik oleh kaum pria," katanya.

Pemerintah Kabupaten Mukomuko, kata Panji, hampir setiap tahun membuka peluang bagi warga untuk ikut program vasektomi. Namun, hampir setiap tahun program itu diadakan. Tidak ada satupun calon akseptor yang mendaftar.

BACA JUGA:Tekan Angka Kemiskinan, Bupati Ajak Warga Ikut Program KB

BACA JUGA:Tekan Angka Kemiskinan Melalui Program KB

Meski begitu, DP2KBP3A Kabupaten Mukomuko akan terus membantu pemerintah daerah mengatasi persoalan ekonomi dan sosial masyarakat. Dengan mendorong kaum pria untuk ikut KB metode vasektomi. Ia menjelaskan, kurangnya pemahaman mereka akibat tidak maksimalnya sosialisasi dan edukasi yang dilakukan. Membuat program ini tidak diminati.

“Sebagian warga mengatakan ini tabu. Mereka mengatakan itu karena memang kurangnya pemahaman," jelasnya.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan