Iklan doni 2

Perikanan Darat di Bengkulu Utara vs Lingkaran Setan Monopolistik

Tommy Sitompul, S.Sos-Radar Utara/Wahyudi Ndut-

RADARUTARA.BACAKORAN.CO - Potensi pembangunan pabrik pelet di Kabupaten Bengkulu Utara, turut direspon anggota dewan. Dengan angka produksi tertinggi se Provinsi Bengkulu, perikanan darat di Kabupaten Bengkulu Utara, sudah harus disikapi dengan pendekatan yang lebih konkret di sektor hulu, agar dapat terentaskan dari siklus lingkaran setan monopolistik.

"Monpolistik pasar pakan hingga hasil produksi, sangat memberatkan petani. Dengan adanya pabrik pelet, petani akan terentaskan dari sistem lingkaran setan monopolistik. Petani ikan, akan lebih sejahtera," ujar anggota DPRD, Tommy Sitompul,S.Sos, beberapa waktu lalu. 

Membaca laporan Radar Utara, politisi Golkar itu menilai keberadaan kawasan sentral produksi perikanan darat yang diperkirakan tembus 15 ribu ton per tahun, sudah sangat perlu disikapi dengan keberadaan fasilitas penunjang pada komoditi utama di tahapan produksi. 

"Dengan adanya pabrik pelet, otomatis harga pelet bisa lebih terjangkau. Aksesibilitas pelet juga bisa lebih berkepastian," analisanya. 

BACA JUGA:Investor Lirik Perikanan Darat Bengkulu Utara

BACA JUGA:Dinas Perikanan Mukomuko Bakal Siapkan Data Perikanan di 2026

"Pabrik juga otomatis memantik lapangan kerja," sambungnya lagi menegasi multiplier effect potensi pembangunan pabrik pelet yang sudah memiliki fisibility study (FS), sehingga sudah diketahui berapa lama Break Event Poin (BEP) hingga Internal Rate of Return (IRR) yang sangat penting bagi calon investor sebelum menjatuhkan langkah berinvestasi ke suatu wilayah atau segmen tertentu. 

Apa yang diungkapkan Tommy, disambung serius dengan pelaku pertanian perikanan darat. Namanya, Sudarman. Bekas birokrat itu, bilang, petani ikan praktis dihadapkan dengan situasi pelik karena double monopolistik, mulai dari pakan sampai dengan hasil produksi. 

"Pemerintah harus mengambil langkah konkret. Khususnya di sektor hilir produksi yakni pasar penjualan. Jika terus dibiarkan seperti sekarang ini, petani cuma jadi bulan-bulanan pasar," keluh Sudarman, petani ikan di wilayah Kecamatan Arma Jaya yang kini pilih angkat bendera putih, berkolam mandiri. 

Setelah berjibaku dengan operasional pemeliharaan ikan nyaris 4 bulan, terus Sudarman, petani dihadapkan dengan kebingungan pasar yang cenderung sangat dipengaruhi oleh pihak tertentu. 

BACA JUGA:Serapan Produk Perikanan untuk MBG Diproyeksi Meningkat

BACA JUGA:Kursi Kadis Perikanan Mukomuko Kosong, Pemkab Segera Tunjuk Plt

Kasus yang paling krusial dan paling sering terjadi, ungkap dia, serius, sangat jarang petani dapat menjual sendiri hasil produksinya. 

Lalu, sangat jarang juga, menjumpai momentum penjualan kepada tengkulak yang diiyakan pada hari yang sama. Hampir pasti, terusnya lagi, petani dihadapkan dengan mundurnya waktu panen yang otomatis menambah biaya operasional ikan dengan dalih "menunggu jadwal".

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan