Menguak Mitos Situ Lengkong Panjalu Serta Kaitannya Dengan Prabu Borosngora Raja Kerajaan Panjalu
Menguak mitos Situ Lengkong Panjalu yang sakral. Cari tahu makam siapa yang ada di Situ Lengkong dan sejarah Prabu Borosngora.-26 Abybill-
RADARUTARA.BACAKORAN.CO - Mitos Situ Lengkong Panjalu merupakan salah satu tempat wisata yang terletak di Panjalu, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis. Tempat wisata ini sangat tepat untuk dikunjungi saat berlibur.
Menurut cerita, selain menikmati keindahan danau, pengunjung juga bisa berziarah ke makam kuno Prabu Hariang Kancana, anak Prabu Borosngora, yang terletak di pulau Nusa Gede di Situ Lengkong.
Dan juga dapat mengunjungi museum Bumi Alit, tempat di mana terdapat artefak bersejarah seperti menhir, batu penyucian, batu penobatan, serta berbagai naskah dan alat peninggalan raja-raja Panjalu di masa lalu, di antaranya pedang, cis, dan genta (lonceng kecil) dari Prabu Sanghyang Borosngora.
Prabu Sanghyang Borosngora, yang juga dikenal sebagai Prabu Borosngora, merupakan penyebar agama Islam pertama di Tatar Sunda serta terkait dengan pembangunan Situ Lengkong Panjalu.
BACA JUGA:Gunung Padang Jabar Jejak Era Megalitikum, Dipercaya Berusia 25.000 Tahun
BACA JUGA:Siapakah Sanghyang Borosngora? Raja Panjalu Penyebar Agama Islam Pertama di Tatar Sunda
Sanghyang Borosngora merupakan putra Prabu Cakradewa dan Ratu Sari Permanadewi. Sebab Borosngora dikenal karena kesaktian luar biasa dan menjadi Raja Panjalu setelah menggantikan kakaknya.
Memang secara historis, danau ini berkaitan dekat dengan Kerajaan Panjalu dan penyebaran agama Islam di daerah tersebut.
Legenda mengatakan bahwa danau ini terbentuk dari air zam-zam yang dibawa oleh Syekh Panjalu atau Prabu Borosngora dari Mekah, lalu dituangkan ke sebuah lembah.
Kisahnya, konon raja Panjalu menginginkan agar putra mahkotanya memiliki ilmu yang paling sempurna. Maka sebab itu, putra mahkota yang bernama Borosngora mengembara dan berakhirlah di tanah suci Makkah.
BACA JUGA:Mengungkap Kisah Mistik di Balik Museum Pos Indonesia Bandung
Setelah menghabiskan bertahun-tahun belajar tentang agama di tanah Arab, Borosngora yang kini telah memeluk Islam berniat untuk pulang ke Panjalu.
Akan tetapi, untuk menunjukkan bahwa pengetahuan agamanya telah mumpuni sang guru mensyaratkan kepadanya untuk membawa air zam-zam kedalam keranjang yang berlubang-lubang.
