Jejak Prasejarah di De Tjolomadoe
Replika hewan dan benda purbakala pada Pameran Kampung Purba di De Tjolomadoe, Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah. -ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha-
RADARUTARA.BACAKORAN.CO - De Tjolomadoe ternyata juga mempunyai kisah sendiri, sempat mengalami kejayaan di abad 19 sampai awal abad 20 sebagai produsen gula terbesar Asia.
Memasuki ruangan gedung De Tjolomadoe, Karanganyar, Jawa Tengah, serasa memasuki lorong waktu. Pengunjung disuguhi ragam koleksi benda dan artefak prasejarah Nusantara. Benda yang dipajang dalam Pameran “Kampung Purba”, antara lain, replika hewan zaman purba dan sejumlah peralatan prasejarah.
Benda-benda prasejarah yang ditampilkan dalam pameran merupakan koleksi dari 16 instansi Balai Pelestarian Cagar Budaya yang ada di Indonesia, mulai dari Sangiran, Aceh, Sumatra Barat, Banten, Bali, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kalimantan Timur, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Ternate, Museum Geologi Bandung, hingga Museum Nasional Indonesia.
Ajang ini merupakan agenda Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) bertajuk pameran prasejarah “Jejak Peradaban Prasejarah di Nusantara”.
BACA JUGA:7 Fakta Unik Perayaan Waisak Candi Borobudur yang Sudah Ada Sejak 1929
BACA JUGA:Jejak Masa Lalu Sirih dan Pinang
De Tjolomadoe ternyata juga mempunyai kisah sendiri. Gedung tersebut merupakan bekas pabrik gula (PG) Colomadu yang didirikan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara IV. Sempat mengalami kejayaan di abad 19 sampai awal abad 20 sebagai produsen gula terbesar Asia.
Sampai kemudian pada 2018 dibuka kembali setelah direvitalisasi oleh Kementerian BUMN. Keberadaannya kini menjadi pusat budaya, ruang konser, ruang unjuk karya kreatif, komersial area berisi tenant food and beverage yang bisa digunakan untuk nongkrong kawula muda Joglosemar (Jogjakarta, Solo, dan Semarang).
Pameran prasejarah tersebut diselenggarakan oleh Direktorat Pengembangan dan Pemanfaataan Kebudayaan bekerja sama dengan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba, Museum Geologi Bandung, Balai Pelestarian Cagar Budaya seluruh Indonesia, Museum Nasional, Balai Pelestarian Nilai Budaya D.I Yogyakarta, dan Balai Konservasi Borobudur.
Menurut Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran, Iskandar Mulia Siregar, Pameran “Kampung Purba” berisi refleksi rekonstruksi kehidupan masa prasejarah dalam bentuk kampung yang terbagi dalam beberapa klaster.
BACA JUGA:Dari Odisha hingga Jepara, Keturunan Kalingga di Nusantara
BACA JUGA:Pesona Mistis di Situs Warisan Dunia Candi Prambanan
“Setiap klaster menyajikan cerita tentang cara hidup dan beradaptasi manusia hingga tercipta sebuah peradaban yang khas dari masa ke masa,” ujar Iskandar.
Suasana “Kampung Purba” dirasakan oleh kalangan siswa SD hingga SMA. Seperti yang dialami siswa SMPN 2 Colomadu, Monica Nada Amalia dan Muhammad Afnan Khafid. Monica dan Afnan sudah dua kali menghadiri pameran ini.
