Harga TBS Sawit Semakin Turun, Begini Harga Per Kilogram Hari ini?
Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Bengkulu Utara, Desman Siboro, SH.-Radar Utara / Abdurrahman Wachid-
RADARUTARA.BACAKORAN.CO - Harga TBS hari ini, khususnya kelapa sawit terus alami kemerosotan harga beli di tingkat pabrik di seluruh Indonesia, khususnya medio Maret hingga awal April 2025.
Misalnya di delapan Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit (PPKS) yang ada di Kabupaten Bengkulu Utara, Harga sawit per kg hari ini, Selasa, 8 April 2025, seluruh pabrik tidak yang menyentuh harga Rp 3.000 per kg.
Harga sawit per kg hari ini, Tertinggi, yakni PT Agricinal membeli dengan harga Rp 2.920 per kg, dan terendah yakni Rp 2.650 per kg.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Bengkulu Utara, Desman Siboro, SH., saat dibincangi RU pada hari Selasa, 8 April 2025.
"Beberapa minggu terakhir, kemerosotan kelapa sawit rata Rp 30 hingga Rp 50 per kg,"ungkapnya.
BACA JUGA:Harga Sawit di Mukomuko Terjun Bebas, Tertinggi Rp2.700 Per Kg
BACA JUGA:Harga Anjlok Paska Lebaran, Pabrik Mulai Terima TBS Petani
Penyebab harga sawit turun, ini pun masih dalam pertanyaan oleh sejumlah masyarakat, bahkan pihaknya belum mengetahui pasti apa yang menjadi penyebab kemerosotan itu bisa terus terjadi.
Namun, beberapa waktu lalu, pihaknya sendiri sempat mempertanyakan mengapa harga beli TBS kelapa sawit ini mengalami kemerosotan.
Dibeberkannya, penyebab harga sawit turun pada saat beberapa waktu lalu itu, pihaknya menanyakan kepada para pihak PPKS, mendapatkan jawaban dari mereka bahwa kualitas panen sawit masyarakat yang tidak memenuhi standar.
"Kalau di akhir bulan lalu, (Maret 2025, red) saat kita tanyakan, katanya buah dari sawit rakyat itu masih terlalu muda/mengkal sudah dipanen,"ujar Desman.
BACA JUGA:Harga Sawit di Mukomuko Terjun Bebas, Tertinggi Rp2.700 Per Kg
BACA JUGA:Harga Anjlok Paska Lebaran, Pabrik Mulai Terima TBS Petani
Penelusuran RU, sebagai informasi bahwa Kementerian Perdagangan mengungkapkan penurunan harga CPO yang terjadi di medio Maret 2025 ini dikarenakan penurunan permintaan ekspor terutama ke India dan terjadinya penurunan harga minyak nabati jenis lainnya.
