Percakapan mereka cukup lama. Berkisar di antara lima puluh kilo meter perjalan kaki yang ditempuh oelh seorang musafir. Kesepakatan di antara mereka bukan tanpa arti. Satu-satunya adalah agar langit memberi takzim pada bumi yang kaya dan subur ini, sehabis sindikat Moi takluk.
Selama keduanya bertkar suarai, langit tak lagi mengirim hujan. Dan matahari sedikit menyembul seukuran dua jengkal tangan. Sepertinya langit tak ingin mengganggu percakapan mereka dan matahari mengintip penasaran perundingan rahasia mereka.
Setelah mengintip cukup lama, matahari kembali mencabut sinarnya bersamaan dengan usainya percakapan di antara keduanya dan hujan kembali turun mengamini misi mereka.
Sementara itu, di bilik terkatup, terdapat badai ganar. Komplotan Moi belingsatan mengetahui pertemuan di rumah Hakim Bagir. Ada rasa kalut yang menatap tajam di meja yang mereka kitari.
BACA JUGA:Cecep Ingin Menjadi Kaya
BACA JUGA:Ibu, Pematang Sawah dan Cerita Seorang Gadis
Mereka harus mencari cara lain, karena naskah drama yang mereka buat untuk menjegal Jaksa Amir pekan lalu, tidak sepenuhnya berhasil.
Benar saja, rencana mereka membuahkan hasil. Dua hari kemudian, berita yang berisi kasus yang menyeret nama Hakim Bagir mencuat sekonyong-konyong di media.
Dalam keterangan berita itu, ia diduga telah melakukan suap-menyuap dua tahun lalu saat ia menjebloskan anak seorang pemilik perusahaan tekstil.
Kabarnya, ia disuap oleh direktur perusahaan pesaingnya agar perusahaan tersebut tak lagi laku dipasaran. Namun, tentu saja ini berita bohong. Hakim Bagir tidak pernah melakukan itu.
BACA JUGA:Dendam
BACA JUGA:Di Balik Pintu Hotel Melati
Kini, Hakim Bagir tak lagi menjabat sebagai Kepala Staf Kehakiman. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Surat pemecatan untuknya segera datang.
Dia digantikan oleh Tuma, hakim yang didatangkan dari kota. Sementara itu, Jaksa Amir terdampar di kasur setelah mengetahui pemecatan itu sambil memandang langit-langit cukup lama. Rasa jemu, kesal, dan geram bercampur sempurna dalam hidangan makan malam yang tawar.
Jauh di balik bukit-bukit kemelaratan, komplotan Moi dan si gembrot bersuka ria di perlucahan.
Dengan iringan musik kemenangan, mereka menikmati malam yang candu dengan minuman soda, cerutu dan pelayan perempuan mereka. Apakah Jaksa Amir akan menyerah begitu saja? Ada dua kemungkinan; iya atau tidak.