BACA JUGA:Di Balik Pintu Hotel Melati
Dua pekan berlalu begitu cepat. Langit pagi kusam temaram seperti wajah Pak Sarni. Daun-daun kering gugur bergelimpangan satu persatu di pagi yang tak ada angin. Selama dua pekan tanah selalu basah oleh gemercik hujan sebesar kelingking. Bau basah menyengat dari selokan.
Sampah-sampah perkotaan meluap. Pembalut dan popok bayi yang dibuang semena-mena sebelumnya kini menampakkan diri dengan sengaja.
Dari sampah-sampah yang tak terusurus itu, wabah demam berdarah menyebar akut di tengah kota, sempat membikin penghuninya ogah keluar karena takut terjangkiti.
Di tengah-tengah wabah, gedung kehakiman gempar dikagetkan karena kematian Hakim Tuma yang tergesa-gesa. Dia didiagnosa terkena demam berdarah.
BACA JUGA:Cecep Ingin Menjadi Kaya
BACA JUGA:Ibu, Pematang Sawah dan Cerita Seorang Gadis
Sehari yang lalu, badannya lemas, mukanya pucat pasi dan darah keluar berhembur seperti muntah dari lubang bokongnya. Ia tak bisa diselamatkan.
Di siang hari yang masih masam, orang-orang berdatangan untuk belasungkawa atas kematiannya yang mengenaskan.
Handai taulan datang dan pergi bergantian. Begitu pula dengan Pak Sarni, Moi, Beni, Jaksa Latif, dan beberapa aparat rekan tugasnya.
Jaksa Amir dan Hakim Bagir juga ikut menshalati. Mereka bertemu di halaman rumah, di taman-taman bunga yang layu, mereka bersemuka begitu kosong dan dingin.
BACA JUGA:Dendam
BACA JUGA:Di Balik Pintu Hotel Melati
Di malam yang tak bergairah, komplotan Moi berpisah jasad menuju kandang kediaman mereka masing-masing. Moi kalut, Beni meringkik tak karuan dan Pak Sarni seperti biasanya, bermuka suram. Begitu pula Latif, si jaksa lancung bergeming di meja makan.
Sebenarnya mereka tidak merasa kehilangan sedikitpun atas kematian si Tuma. Tapi, karena mereka takut karena penyebab kematian si Tuma begitu menjijikkan; bergelimang darah dan nanah.
Mereka semua takut, sebab dosa mereka sama, sama-sama rakus. Di benak mereka, jangan-jangan nanti mereka juga merasakan hal yang sama dengan Hakim Tuma.