Iklan doni 2

Menjujug Jantung Budaya Sunda : Sindang Barang, Terawat Hingga Lintas Masa

Apa itu Kampung Sindang Barang? Pelajari sejarah, asal usul, arti, hingga keunikan dan ciri khasnya. Dapatkan info tiket masuk ke sini!-Dok. Kampung Budaya Sindang Barang Bogor-

RADARUTARA.BACAKORAN.CO - Sindang Barang berada di Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dan merupakan sebuah kampung adat Sunda yang bersejarah dan masih melestarikan kearifan lokal.

Letaknya dekat dengan pusat Kota Bogor dan dapat diakses baik menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi umum.

Asal usul Kampung Budaya Sindang Barang dimulai dari Kampung Sindang Barang, yang merupakan kampung adat Sunda.

Menurut catatan sejarah, Kampung Sindang Barang sudah ada sejak zaman Kerajaan Sunda sekitar abad ke 12 yang terpapar dalam Babad Pajajaran dan tertulis dalam Pantun Bogor.

BACA JUGA:Makam Keramat dan Larangan Aneh: Menguak Misteri Kampung Adat Mahmud

BACA JUGA:Lebih dari Wisata, Inilah Keunikan dan Adat Istiadat Kampung Miduana yang Wajib Diketahui

Di daerah ini, dahulu terdapat Kerajaan Bawahan bernama Sindang Barang yang ibu kotanya adalah Kuta Barang. Di mana arti Sindang Barang adalah "Sindang" dalam bahasa Sunda berarti singgah atau berhenti. 

Sedangkan "Barang" berarti benda atau urusan, merujuk pada sejarahnya sebagai tempat persinggahan, pusat kerajaan, atau tempat tinggal bagi istri Prabu Siliwangi pada waktu Kerajaan Pajajaran.

Pasalnya Budaya Sunda di Bogor bermula dan masih dilestarikan sampai sekarang, di antaranya melalui Upacara Adat Seren Taun.

Sekarang, Sindang Barang dihidupkan kembali sebagai Kampung Budaya Sindang Barang untuk menjaga kearifan lokal dan tradisi nenek moyang masyarakat Sunda. Selain itu, Kampung Budaya Sindang Barang dirancang menyerupai perkampungan Sunda di masa lampau.

BACA JUGA:Ada Sejak Tahun 1368, Misteri Kampung Adat Ciptagelar Terungkap! Ini Aturan Unik yang Bikin Beda

BACA JUGA:Tingkatkan Kesejahteraan, Pemkab Usulkan Tiga Lokasi Jadi Kampung Nelayan Merah Putih

Hal ini bertujuan agar pengunjung dapat mengenali bentuk-bentuk rumah dan kegunaannya. Contohnya, Imah Gede yang terletak di dataran tertinggi, yang berfungsi sebagai tempat tinggal ketua adat.

Adapun tradisi Seren Taun dilaksanakan saat memasuki bulan Muharram sebagai ungkapan syukur atas hasil panen dengan cara sedekah bumi atau penyerahan hasil pertanian berupa padi.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan