Geger.! Upacara Penurunan Bendera di XIV Koto Batal, Tamu Bubarkan Diri
Terlihat perwakilan paskibra menurunkan bendera merah putih di Desa Tanjung Mulya-Radar Utara/Wahyudi -
MUKOMUKO, RADARUTARA.BACAKORAN.CO – Rangkaian upacara peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia di Kecamatan XIV Koto, Kabupaten Mukomuko, berakhir dengan kekecewaan. Upacara penurunan bendera merah putih yang seharusnya dilaksanakan pada Minggu, 17 Agustus 2025 sekitar pukul 15.00 WIB di Lapangan Desa Tanjung Mulya, SP9, terpaksa batal digelar.
Awalnya, prosesi penurunan bendera dijadwalkan berlangsung setelah upacara pengibaran pada pagi harinya. Namun cuaca buruk membuat jadwal mundur. Hujan deras yang mengguyur wilayah setempat membuat peserta dan tamu undangan harus menunggu lebih lama. Setelah cuaca reda, para peserta, termasuk sejumlah pejabat kecamatan serta perangkat desa dari wilayah sekitar, berbondong-bondong menuju lokasi acara.
Sayangnya, situasi di lapangan jauh dari yang diharapkan. Kursi tamu undangan yang sebelumnya digunakan pada upacara pagi sudah dilipat dan dipindahkan. Kondisi itu menimbulkan kebingungan di kalangan tamu yang baru hadir. Lebih parah lagi, panitia penyelenggara yang ditunjuk sebagai tuan rumah disebut-sebut tidak berada di lokasi. Akibatnya, sejumlah tamu merasa tidak dihargai dan akhirnya memutuskan untuk bubar.
Menanggapi informasi itu, Kepala Desa Tanjung Mulya SP9, Wardoyo, saat dikonfirmasi membenarkan adanya insiden tersebut. Ia menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh pihak yang merasa kurang dihargai. Menurutnya, kondisi yang terjadi bukan karena pemerintah desa mengabaikan tamu, melainkan karena alasan teknis.
BACA JUGA:Meriahkan HUT ke-80 Kemerdekaan RI, Warga Gelar Aneka Lomba Rakyat
BACA JUGA:Dikukuhkan Bupati, Paskibra Mukomuko Siap Kibarkan Merah Putih di HUT ke-80 RI
“Memang kursi sudah dilipat, bukan berarti tidak menghormati. Itu kami lakukan karena di lokasi ada acara hiburan rakyat setelahnya. Kursi yang dipakai juga bukan milik desa, melainkan pinjaman. Kalau tidak segera diamankan, bisa rusak atau hilang,” jelas Wardoyo.
Wardoyo juga menegaskan bahwa panitia sebenarnya ada di lokasi, hanya saja belum membentuk barisan ketika tamu undangan datang.
“Kalau dibilang panitia tidak ada, itu salah. Panitia ada, tapi mungkin para tamu merasa panitia tidak sigap, sehingga langsung bubar. Itu yang sangat kami sesalkan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Wardoyo mengungkapkan bahwa pihaknya sebenarnya tidak serta-merta ingin menjadi tuan rumah. Penunjukan Desa Tanjung Mulya SP9 dilakukan karena desa-desa lain menolak tanggung jawab tersebut.
“Jujur saja, kami modal sendiri. Sampai hari ini tidak ada bantuan dari pemerintah kecamatan maupun kabupaten. Jadi kami mengusahakan semampunya,” katanya.
BACA JUGA:HUT ke-80 Kemerdekaan RI, Momentum untuk Terus Melanjutkan Pembangunan
BACA JUGA:Agenda Nasional, DPRD BU Paripurna Mendengarkan Pidato Kenegaraan HUT RI
Meski demikian, Wardoyo berharap kejadian ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. Ia menekankan perlunya komunikasi yang lebih baik antara panitia, pemerintah kecamatan, serta undangan agar insiden serupa tidak terulang pada perayaan hari besar nasional berikutnya.
