Iklan doni 2

Islam, Kerajaan Pajajaran dan Kerajaan Bawahan dalam Corak Hindu di Sumedang Larang

Jejak Kerajaan Sumedang Larang dari Makam Prabu Geusan Ulun -Nur Azis/detikJabar-

RADARUTARA.BACAKORAN.CO - Diketahui Kerajaan Sumedang Larang berasal dari pecahan Kerajaan Sunda Galuh yang awalnya bercorak Hindu. 

Kerajaan ini didirikan oleh Prabu Aji Putih atas perintah Prabu Suryadewata, sebelum pusat pemerintahan Kerajaan Galuh dipindahkan ke Pajajaran.

Seiring waktu, Sumedang Larang mengalami beberapa kali perubahan nama dan bentuk pemerintahan, termasuk bertransformasi menjadi kerajaan bercorak Islam, hingga akhirnya berubah status menjadi sebuah kabupaten di bawah kekuasaan Mataram.

Disisi lainnya juga Kerajaan Sumedang Larang awalnya merupakan kerajaan bercorak Hindu, namun seiring waktu berkembang menjadi kerajaan Islam.

BACA JUGA:Mengingat Sejarah Bandung Lautan Api

BACA JUGA:Menyelisik Cerita Tua Gunung Cakrabuana di Jawa Barat

Pada mulanya, kerajaan ini merupakan bagian dari Kerajaan Sunda Galuh yang menganut agama Hindu. Memasuki pertengahan abad ke-16, pengaruh Islam mulai masuk dan berkembang, terutama pada masa pemerintahan Ratu Pucuk Umun dan Pangeran Santri.

Pangeran Santri, yang juga dikenal sebagai Ki Gedeng Sumedang, memainkan peranan penting dalam proses islamisasi di wilayah kerajaan tersebut.

Sebagaimana diketahui bahwa Prabu Tajimalela dikenal sebagai pendiri Kerajaan Sumedang Larang, yang pada awalnya merupakan kerajaan bawahan (vassal) dari Kerajaan Pajajaran.

Setelah Pajajaran runtuh akibat serangan dari Kesultanan Banten, Sumedang Larang kemudian melanjutkan warisan kerajaan tersebut.

BACA JUGA:Mitos Gunung Munara Rumpin, Gua Soekarno hingga Petilasan Sultan Hasanuddin

BACA JUGA:Sebelum Dikenal Kota Militer, Cimahi Pernah Jadi Kota Administratif Tahun 1976

Perlu juga untuk diketahui bahwa Kerajaan Sumedang Larang meninggalkan berbagai peninggalan bersejarah yang kini disimpan di Museum Prabu Geusan Ulun di Kabupaten Sumedang.

Peninggalan tersebut mencakup Mahkota Binokasih, berbagai pusaka kerajaan, senjata tradisional, naskah kuno, alat musik gamelan, serta bangunan keraton yang didirikan pada tahun 1706.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan