Kemiskinan Menghantui, Masyarakat Enggano Dalam Keputusasaan
Kepala Suku Enggano, Milson Kaitora -tribunbengkulu.com-
RADARUTARA.BACAKORAN.CO - Pulau Enggano yang terletak di samudra Hindia dan berjarak sekitar 156 Kilo Meter (KM) atau 90 mil laut dari Ibukota Provinsi Bengkulu, sampai dengan saat ini tengah dirundung keputusasaan.
Berhentinya layanan kapal penyeberangan yang mengangkut hasil bumi masyarakat yang mendiami salah satu pulau terdepan di Indonesia, telah melumpuhkan perekonomian masyarakat pulau tersebut.
Pimpinan Kepala Suku Enggano, Milson Kaitora mengaku, terhentinya layanan kapal penyeberangan utama bagi masyarakat Enggano, telah memberikan dampak yang sangat parah.
"Pengangguran merajalela, biaya sekolah anak-anak di luar pulau tak terbayar, usaha kecil-kecilan gulung tikar, dan masyarakat pun mulai kehilangan harapan," ungkap Milson.
BACA JUGA:Ekonomi Masyarakat Enggano Terpuruk, Pemerintah Diminta Berikan Solusi
BACA JUGA:Beras Cadangan Tuntas Disalurkan, Telur di Enggano Melambung
Menurut Milson, kapal penyeberangan sepeti Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Pulo Tello dan KM. Husni Thamrin tersebut, merupakan nadi kehidupan masyarakat Enggano.
"Tanpa itu, kami seperti terputus dari dunia luar. Selama ini, kapal tersebut menjadi satu-satunya penghubung utama untuk mengekspor hasil bumi seperti kelapa, cengkeh, dan ikan ke pasar di Bengkulu dan kota-kota lain," kata Milson.
Kini, lanjut Milson, tumpukan komoditas menganggur karena tak bisa diangkut. Sementara harga komoditas asal Enggano di pasaran, juga terus merosot karena ketiadaan distribusi.
"Makanya kami sangat berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah konkret untuk memulihkan layanan transportasi laut untuk Enggano. Karena tanpa itu, masa depan masyarakat Enggano kian suram," ujar Milson.
BACA JUGA:Bulan Depan, Cetak Sawah Enggano Dimulai
BACA JUGA:KMP Pulo Tello Berlayar, Penumpang Tujuan Enggano Harus Lakukan Ini
Tokoh masyarakat Enggano, Harun Kaarubi mengatakan, jangan salah, dari hasil bumi saja, sebenarnya ada miliaran rupiah yang seharusnya bisa dinikmati masyarakat Enggano.
"Tapi faktanya sekarang, uang itu raib begitu saja. Ini dampak ketiadaan transportasi yang andal, sehingga telah memutus mata rantai ekonomi yang selama ini menjadi tumpuan hidup masyarakat Enggano," papar Harun.
