Iklan doni 2

Krisis Ekonomi Mengintai, Praktik Barter untuk Bertahan Hidup

Kapal nelayan yang digunakan untuk mengangkut hasil bumi Pulau Enggano-Radar Utara / Doni Aftarizal-

Kondisi Masyarakat Enggano

RADARUTARA.BACAKORAN.CO - Krisis ekonomi tampaknya mulai membuat 4.000 jiwa yang mendiami Pulau Enggano Kabupaten Bengkulu Utara, hidup dalam keputusasaan.

Bagaimana tidak, ditengah krisis yang mulai melanda, memaksakan masyarakat pada salah satu pulan terdepan di Indonesia tersebut, melakukan praktik barter yang bertujuan untuk bertahan hidup.

Paabuki Enggano, Milson Kaitora mengatakan, kondisi masyarakat di Pulau Enggano kian memprihatinkan. Ini merupakan salah satu dampak belum beroperasinya kapal yang bisa mengangkut hasil bumi milik masyarakat

"Kehidupan ekonomi kami di sini, sudah bisa dikategorikan lumpuh. Warung-warung sepi, rumah makan bahkan ada yang tutup. Tidak ada orang berbelanja, karena tidak ada uang," ungkapnya.

BACA JUGA:Beras Cadangan Tuntas Disalurkan, Telur di Enggano Melambung

BACA JUGA:Bulan Depan, Cetak Sawah Enggano Dimulai

Menurut Milson, saat ini layanan transportasi laut bagi penumpang, sudah cukup melegakan. Walaupun baru berfungsi dalam sepekan ini. 

"Kapal Ferry Pulo Tello yang bersandar ke Enggano, sudah bisa membawa orang. Meskipun untuk sampai di daratan Bengkulu, tetap harus melakukan transit di luar pintu masuk alur Pelabuhan Pulau Baai," kata Mislon.

Hanya saja, langsung Milson, bagaimana hidup masyarakat yang berada di Pulau Enggano, dan sejauh ini sama sekali tidak ada perhatian serius dari pemerintah.

"Sekarang ini kehidupan kami di pulau kian terpuruk, termasuk dari sisi ekonomi. Sehingga dibutuhkan juga perhatian dan solusi konkrit dari pemerintah," tegas Milson.

BACA JUGA:KMP Pulo Tello Berlayar, Penumpang Tujuan Enggano Harus Lakukan Ini

BACA JUGA:52 CPNS Baru Senin Harus Mulai Kerja, 2 CPNS Penempatan Enggano Bagaimana?

Sementara itu, Ketua Pengurus Daerah AMAN Enggano, Mulyadi Kauno menambahkan, saat ini para petani yang memiliki uang, terpaksa harus merogoh kocek mereka mulai dari Rp 18 juta-Rp 20 juta.

"Itu dipergunakan untuk menyewa kapal nelayan, agar bisa mengirimkan hasil panen seperti komoditi pisang," ujar Mulyadi.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan